Menteri Sri Mulyani Paparkan Tax Amnesty pada WNI di Belanda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Sri Mulyani bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja bersama para pelajar dan Diaspora Indonesia  di KBRI Den Haag, Minggu, 13 November 2016. (Foto: KBRI Den Haag)

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja bersama para pelajar dan Diaspora Indonesia di KBRI Den Haag, Minggu, 13 November 2016. (Foto: KBRI Den Haag)

    TEMPO.CO, Den Haag - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati,  memaparkan mengenai pentingnya program tax amnesty kepada para pelajar dan diaspora Indonesia di Belanda.  Dalam acara yang digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, Minggu, 13 November tersebut,  Sri Mulyani  mengingatkan kepada para wajib pajak untuk membayar pajak secara tertib dan benar sesuai peraturan.

    Menurut rilis KBRI Den Haag yang diterima Tempo, 14 November 2016, dialog tersebut digelar dalam dua sesi. “Sesi pertama dilakukan bersama 250 pelajar dari berbagai universitas di Belanda yang menerima Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Pemerintah Indonesia,”  kata Azis Nurwahyudi, Minister Konselor bidang Penerangan dan Sosial  Budaya, KBRI Den Haag, via rilis yang diterima Tempo.

    Sedangkan dialog sesi kedua dilakukan Sri Mulyani dengan para Diaspora Indonesia, pengurus Persatuan Pelajar Indonesia Belanda, organisasi pemuda Belanda yang tertarik dengan Indonesia, yakni Indonesia-Netherland Youth Society (INYS) dan Darma Wanita Persatuan KBRI Den Haag.   Lebih dari 200 orang hadir pada sesi kedua ini.

    Pada pertemuan tersebut, Sri Mulyani juga memaparkan perkembangan yang terjadi di Indonesia, utamanya dalam pembangunan ekonomi yang lebih sehat, yang dilakukan melalui pembangunan infrastruktur fisik dan sumber daya manusia.  
    “Pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan salah satu dari yang tertinggi di dunia, diantaranya didorong oleh bidang jasa seperti perbankan, transportasi, dan telekomunikasi,” kata Sri Mulyani.

    Untuk pembangunan sumber daya manusia, pemerintah telah mengalokasikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk pendidikan.  Hal ini lantaran pendidikan merupakan salah satu investasi yang sangat penting dalam rangka membangun manusia Indonesia dan merupakan salah satu syarat ekonomi menjadi sehat.

    Saat ini terdapat sekitar 15.572 WNI yang mendapatkan dana pendidikan untuk belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia melalui program Beasiswa LPDP.  Di Belanda terdapat 872 penerima beasiswa LPDP,  673 untuk tingkat Master dan 199 pada tingkat Doktoral.

    Sri Mulyani juga memaparkan  upaya-upaya yang telah dilakukan Presiden Joko Widodo dalam memangkas birokrasi sehingga perizinan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan dalam satu pintu. Hal ini telah mendorong minat investasi baik asing maupun domestik di indonesia.

    Pada sesi tanya jawab,   sejumlah mahasiswa dan diaspora mempertanyakan peran sektor swasta dalam pembangunan, pembayaran pajak, peluang untuk mengabdi  di Tanah Air ketika usai belajar dan tawaran dari Diaspora Indonesia di Belanda untuk turut membangun negara. 

    Salah satu mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Universitas Leiden, Aisha Fauzia, menyampaikan kesannya bahwa setelah mendengar paparan dari Menteri Keuangan, yang bersangkutan merasa lebih semangat dalam belajar karena telah menggunakan uang rakyat pembayar pajak. Aisha akan lebih bertanggung jawab dalam belajar dan segera kembali mengabdi di Kementerian Luar Negeri dimana dia bekerja.

    Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja,  membuka kedua sesi yang diakhiri dengan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.