Selasa, 22 Agustus 2017

Pertemuan Menlu Indonesia dan Malaysia Bahas Isu Kelapa Sawit

Jum'at, 11 Agustus 2017 | 22:39 WIB
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan Menteri Luar Negeri Malaysia Dato' Sri Anifah Aman menjabarkan wujud kerjasama dalam rangka Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, 11 Agustus 2017. Tempo/Stanley Widianto

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan Menteri Luar Negeri Malaysia Dato' Sri Anifah Aman menjabarkan wujud kerjasama dalam rangka Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, 11 Agustus 2017. Tempo/Stanley Widianto.

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Malaysia mengumumkan sejumlah kerja sama baru dalam kerangka Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC).  Kolaborasi dalam bidang perdagangan, investasi dan kelapa sawit itu diteken Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menlu Malaysia,  Dato’ Sri Anifah Aman, di Jakarta, Jumat  11 Agustus 2017.

"Sebagaimana diketahui Malaysia merupakan mitra penting Indonesia di bidang perdagangan dan investasi,” kata Retno. Malaysia merupakan salah satu dari sepuluh investor untuk Indonesia dengan investasi senilai US$ 1,1 miliar pada periode Januari-Desember 2016. Selain itu, total perdagangan antara Malaysia dan Indonesia, menurut Retno, mencapai US$ 15 miliar. 

Menurut Retno, dalam pertemuan dengan koleganya itu dibahas seluruh kerja sama di antara isu-isu regional. “Yang melibatkan hubungan politik, maritim, kebijakan nelayan, pengambilan migran Indonesia, kerja sama ekonomi, pendidikan, perdagangan dan peleburan,” kata Sri Anifah. 

Indonesia dan Malaysia merupakan bagian dari organisasi antar pemerintah Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC). Produksi kelapa sawit, kata Retno,  merupakan prioritas bagi kedua negara.

“Kerja sama baru yang sangat strategis bagi Indonesia dan Malaysia karena Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara produsen sawit terbesar di dunia,” ucap Retno.


Retno  menjelaskan sektor sawit merupakan hal penting  bagi Indonesia.  Indonesia terus mendorong peningkatan produksi sawit yang lestari dan  meningkatkan daya saing sawit.

“Dan sekaligus untuk meningkatkan promosi dalam menghadapi kampanye hitam mengenai kelapa sawit,” katanya. 

Menurutnya,  resolusi dari Parlemen Eropa pada April 2017 merupakan bentuk dari kampenye hitam. Resolusi itu mendorong Uni Eropa untuk menghilangkan penggunaan minyak sawit untuk  biodiesel pada 2020 dengan mengurangi impor. Resolusi tersebut menyebut perkebunan kelapa sawit telah mendorong penggundulan hutan tropis.

Pertemuan antara kedua menteri luar negeri tersebut merupakan bentuk pengukuhan kerja sama  Indonesia dan Malaysia yang sudah menginjak usia 60 tahun. Ini adalah JCBC yang ke-15, setelah sebelumnya dilaksanakan di Malaysia pada  tahun 2015. Isu-isu lain yang dibahas adalah masalah regional, ketenagakerjaan dan perbatasan.

STANLEY WIDIANTO

 

 


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?