Referendum Oposisi Venezuela, Seorang Wanita Tewas Ditembak

Senin, 17 Juli 2017 | 11:30 WIB
Referendum Oposisi Venezuela, Seorang Wanita Tewas Ditembak
Sejumlah suku Guajiro memasukan surat suara dalam pemilihan umum tidak resmi, untuk menolak pemerintahan Presiden Nicolas Maduro dan tidak melanjutkan jabatannya di Maracaibo, Venezuela, 16 Juli 2017. Ekspatriat Venezuela mulai memberikan suara di ratusan kota di seluruh dunia dalam sebuah plebisit tidak resmi yang bertujuan untuk menolak Presiden Venezuela Nicolas Maduro. REUTERS/Isaac Urrutia

TEMPO.CO, JakaKarakas—Seorang perawat wanita berusia 61 tahun tewas akibat ditembak saat menunggu untuk memberikan suara dalam referendum yang tidak resmi yang diselenggarakan oposisi Venezuela di ibu kota Karakas.

Seperti dilansir NBC News, Senin 17 Juli 2017, sejumlah pria dengan sepeda motor menembaki antrean para pemilih, menewaskan wanita bernama Xiomara Soledad Scott dan melukai tiga orang lainnya. Media setempat melaporkan Soledad tewas beberapa menit setelah sampai di rumah sakit.

Wali kota oposisi di Karakas, Sucre, Carlos Ocariz, mengatakan bahwa kelompok paramiliter pro-pemerintah menyerang pemilih di luar Gereja Our Lady of Carmen sekitar pukul 3 Ahad sore.



Baca: Siapa Pilot Penyerang Mahkamah Agung Venezuela? 

Video yang diunggah ke media sosial menunjukkan kerumunan di luar gereja, lalu ratusan orang berlarian panik ke dalam gereja saat orang-orang yang menunggang sepeda datang dan tembakan terdengar.

Juru bicara oposisi Carlos Ocariz mengatakan, "Kami mengutuk penembakan itu, dengan rasa sakit yang luar biasa." Kejaksaan Venezuela berjanji akan menyelidiki insiden tersebut.

Wilayah Catia, tempat serangan terjadi, merupakan daerah pro-pemerintah di Caracas barat.

Maduro tidak menyebutkan kejadian tersebut dalam komentar di televisi pemerintah sesaat setelah penutupan resmi pemilihan oposisi pada pukul 4 sore, namun dia menyerukan diakhirinya kekerasan yang dia salahkan pada pihak oposisi.

"Saya meminta oposisi untuk kembali ke perdamaian, menghormati konstitusi, untuk duduk dan berbicara," ujar Maduro. "Mari kita memulai babak baru pembicaraan, dialog untuk perdamaian."

Venezuela dalam krisis, dan lebih dari 100 orang tewas dalam bentrokan politik sejak April setelah krisis ekonomi akibat jatuhnya harga minyak menghantam negara Amerika Selatan itu.

Kubu oposisi Venezuela pun menggelar referendum tak resmi pada Ahad lalu untuk melawan Presiden Nicolas Maduro, menyusul unjuk rasa berdarah yang menewaskan hampir 100 warga dalam tiga bulan terakhir.

Ada 3 pertanyaan yang diajukan kepada para pemilih. Mereka ditanyai apakah menolak majelis konstitusi, apakah mereka menginginkan pasukan bersenjata untuk mempertahankan konstitusi yang ada, dan apakah mereka ingin Pemilu digelar sebelum masa jabatan Maduro berakhir pada 2018.

Keberhasilan referendum simbolis oposisi akan diukur dengan jumlah jutaan yang berpartisipasi.



Baca:  Krisis Venezuela, Helikopter Lempar 4 Granat ke Mahkamah Agung  

Persatuan Demokrat, sebuah koalisi dari sekitar 20 partai oposisi, telah mencetak 14 juta suara untuk pemilih di dalam dan di luar negara 31 juta orang, The Associated Press melaporkan.

Para politisi oposisi mengorganisir jajak pendapat tidak resmi yang diadakan di tempat pemungutan suara di bioskop, lapangan olah raga dan bundaran di Venezuela dan di lebih dari 100 negara di seluruh dunia.

Meski referendum ini hanya simbolis, namun analis mengatakan bahwa partisipasi lebih dari 8 juta orang akan secara signifikan menekan pemerintah.

Namun Presiden Nicolas Maduro menegaskan referendum Ahad lalu sebagai "tidak berarti".

"Mereka telah mengadakan konsultasi internal dengan partai-partai oposisi, dengan mekanisme mereka sendiri, tanpa peraturan pemilihan, tanpa verifikasi terlebih dahulu, tanpa verifikasi lebih jauh. Seolah mereka otonom dan memutuskan sendiri," katanya.

Secara terpisah, wartawan Luis Olavarrieta diculik, dirampok dan dipukuli oleh sekelompok orang. Dia berhasil melarikan diri dan gambar muncul dari dia mendapat perhatian medis.

Maduro sendiri menjadwalkan referendum pada 30 Juli untuk sebuah majelis baru, yang memiliki kekuatan untuk menulis ulang konstitusi dan membubarkan institusi negara.

Maduro berpendapat bahwa majelis penyusun adalah satu-satunya cara untuk membantu Venezuela mengatasi krisis ekonomi dan politiknya. Namun para kritikus khawatir majelis baru ini akan memberi kekuasaan berlebih kepada Maduro yang berujung pada kediktatoran.

BBC | AP | NBC NEWS | SITA PLANASARI AQUADINI



 



 



 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan