Gara-Gara Rumor Penculikan Anak, Enam Orang Tewas di India

Jum'at, 19 Mei 2017 | 20:20 WIB
Gara-Gara Rumor Penculikan Anak, Enam Orang Tewas di India
Warga berkerumun karena desas-desus penculik anak-anak di Seraikela, India. BBC.com/Ravi Prakash

TEMPO.CO, New Delhi - Desas desus terkait kelompok penculik anak di Negara Bagian Jharkhand, India, telah menewaskan enam orang sejauh ini.



Tiga orang dikeroyok massa hingga tewas di distrik Jamshedpur, Seraikela pada Kamis pagi dan tiga lainnya terbunuh di distrik Singbhum Timur pada malam hari.



Seperti dilansir BBC, Jumat 19 Mei 2017, amuk massa itu terjadi setelah beredar rumor bahwa para korban merupakan anggota kelompok penculikan anak.



Baca: Pengadilan India Bebaskan Dokter Aborsi Anak Korban Pemerkosaan



RK Malik, juru bicara kepolisian negara bagian Jharkhand, mengatakan rumor bahwa sebuah kelompok penculikan anak aktif di kedua wilayah ini.



"Mereka mencurigai para korban merupakan bagian dari kelompok penculik anak," katanya.



Dia menambahkan bahwa petugas polisi terluka saat mencoba menghentikan pengeroyokan di Seraikela.



Kepala Polisi Jharkhand, DK Pandey, mengatakan polisi belum menerima laporan tentang anak-anak yang diculik di kedua distrik tersebut dalam beberapa hari ini. "Jadi ini hanya rumor," katanya.



Baca: Mengklakson Sapi, Pria India Dihajar hingga Buta



Laporan polisi menyebut di Distrik Singbhum timur tiga pria tewas dan seorang perempuan terluka setelah warga desa menyeret mereka dari dalam rumah dan memukuli keempatnya atas tuduhan penculikan anak.



Sebelumnya di Distrik Saraikela, tiga pria penjual ternak dipukuli dengan rumor serupa.  Mereka tengah berkendara dengan mobil ketika warga desa menyerang dan membakar mobil mereka.



Lebih dari 100 pejabat polisi telah ditempatkan di setiap distrik untuk memberikan keamanan dan pencegahan terhadap penyebaran desas desus di salah satu negara bagian termiskin di India tersebut.



BBC | INDIA.COM | YON DEMA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan