Demi Cinta, Cucu Kaisar Jepang Rela Lepas Status Bangsawan  

Kamis, 18 Mei 2017 | 20:08 WIB
Demi Cinta, Cucu Kaisar Jepang Rela Lepas Status Bangsawan   
Putri Mako. AP/Shizuo Kambayashi

TEMPO.CO, Tokyo – Putri Mako, cucu Kaisar Akihito rela melepaskan status kebangsawanannya demi cintanya kepada seorang pria biasa yang bekerja di bidang pariwisata. Bangsawan Jepang ini akan melangsungkan pernikahan dengan kekasih hatinya, Kei Komura, yang memiliki bakat surfing, bermain biola, dan memasak.

Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang membenarkan bahwa putri Pangeran Akishino dan Putri Kiko akan bertunangan dengan Komuro. Ini akan menjadi pertunangan pertama dari empat cucu Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko.

Setelah bertunangan, putri Mako kehilangan status sebagai Putri Kekaisaran Jepang dan langsung menjadi rakyat biasa. Setelah menikah, sang putri berkewajiban meninggalkan keluarga kekaisaran, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kekaisaran.

Menurut laporan Japan Times pada 16 Mei 2017, pasangan itu bertemu di sebuah restoran di Shibuya, Tokyo, sekitar lima tahun lalu.

Sejak saat itu, mereka berdua sering terlihat bersama, sekaligus menguatkan rumor bahwa pasangan tersebut sedang jatuh cinta.

Pria beruntung yang memenangkan hati Mako, 25 tahun, merupakan mahasiswa Universitas Internasional Kristen di Tokyo. Keduanya kuliah di kampus itu.

Komuro kini bekerja sebagai Pangeran Laut untuk mempromosikan kawasan wisata di Pantai Shonan dekat wilayah Kanagawa.

Sang putri telah memperkenalkan Komuro kepada Pangeran Akishino, yang merupakan adik dari Putra Mahkota Naruhito.

Hubungan mereka berdua telah direstui oleh orang tua Mako, mengingat pernikahan tersebut tidak mempengaruhi sistem kerajaan karena wanita tidak dapat naik takhta.

Setelah lulus dari universitas pada 2014, Putri Mako memperoleh gelar master di bidang museum seni dan studi galeri di Universitas Leicester. Sekarang, cucu Kaisar Akihito tersebut bekerja sebagai peneliti di sebuah museum di Universitas Tokyo, Jepang, tiga hari dalam seminggu.

ABC NEWS | JAPAN TIMES | YON DEMA




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan