Debat Terakhir Kandidat Presiden AS, Ini Tantangannya

Kamis, 20 Oktober 2016 | 03:11 WIB
Debat Terakhir Kandidat Presiden AS, Ini Tantangannya
Koki J.S. Burgers Cafe, Yasuhito Fukui menyiapkan Mr. and Mrs. Burger yeng bertemakan kandidat presiden AS Hillary Clinton dan Donald Trump di hamburger joint, Tokyo, Jepang, 7 Oktober 2016. REUTERS/Megumi Lim

TEMPO.CO, Las Vegas - Calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton dan Donald Trump akan kembali bertemu dalam sesi debat kandidat terakhir. Debat kandidat kali ini akan jadi pertarungan akhir keduanya menjelang Pemilihan Umum di AS.

Dalam pertarungan ini, kedua calon perlu meyakinkan mereka yang belum yang menentukan pilihan atau 'undecided voters' untuk memilih. Keduanya juga harus meyakinkan tidak ada calon yang lebih baik dari dirinya untuk menempati Gedung Putih.

Sejak sesi debat kandidat pertama kali, Trump berada dalam posisi terlemah hingga dalam survei national. Dia juga kalah di beberapa negara bagian yang menjadi andalannya.

Dalam beberapa kali kesempatan saat debat kanddidat, Trump juga dianggap telah melontarkan argumen aneh yang menyebut pemilihan 2016 dibumbui kecurangan untuk memenangkan Hillary. Hal itu dinilai akan menguntungkan Hillary Clinton.

Sementara itu, Hillary Clinton, akan menghadapi satu set pertanyaan untuk menjawab seputar kabar emailnya yang diretas dan penggunaanserver email pribadi saat menjabat sebagai menteri Luar Negeri. Berkaca dari dua sesi debat sebelumnya, sesi selanjutnya diprediksikan akan lebih teatrikal, kontroversial, dan mengejutkan.

Hasil poling yang terus merosot dan Partai Demokrat semakin menguat membuat Trump mengeluarkan wacana baru bagi para pendukungnya, yaitu jika dia kalah maka jangan pernah mempercayai hasil pemilihan umum.

Sebelumnya, dia pernah mengatakan pemilu kali ini dia dicurangi. Kemudian dia juga menyebutkan sistem politik yang simpang siur ini seakan telah menjamin kemenangan Clinton. Trump justru menunjukan ketidakpercayaannya terhadap media.

Namun, argumen Trump itu hanya dianggap sebagai bentuk sikap pesimisnya untuk bisa memenangkan Pemilu AS. Bahkan pada debat sebelumnya, Trump sempat memunculkan sosok wanita yang mengaku pernah dilecehkan pada masa lalu oleh suami Hillary, Bill Clinton, yang juga seorang mantan presiden.

Meski begitu, Hillary mengambil strategi lain. Saat dia diserang dengan isu bombastis, Hillary hanya menyikapinya dengan tenang. Ia mengutip Michelle Obama, "Ketika lawan maju perlahan, saat itu kita harus menanjak cepat." Diperkirakan Hillary akan menerapkan hal serupa nanti.

Sementara, penasihat Trump mengingatkan kilennya untuk hanya fokus pada substansi dan kebijakan dari pada hanya berkutat pada masalah segala macam tuduhan kepada lawannya. "Jika saya harus berdebat, saya hanya akan membahas apa yang orang lain inginkan, seperti pelayanan kesehatan, terorisme, ekonomi, dan pajak," kata penasihat kampamye Trump, Kellyanne Conway.

Jika penampilan debat Trump ini tidak dapat diprediksi dan persiapan debat tidak biasa, Clinton hanya terpaku pada pedoman paling tradisional: berlatih. Clinton cenderung menghindari kejanggalan besar; secara konsisten verifikasi fakta lawannya; dan terpaku pada sikap yang dipersiapkan di atas panggung.

Padahal, debat nanti akan sulit diprediksi dan diarahkan, bahkan bagi mereka yang berpengalaman sekalipun. Perselisihan Hillary dengan Trump hanya akan mengaburkan pesannya sendiri.

Tantangan besar bagi Clinton tidak begitu berbeda dari tantangan sebelumnya. Dia harus mampu menyajikan negara dengan visi positif bagi kepresidenannya, terlepas dari argumen melawan Trump.

Tantangan Trump bahkan lebih signifikan. Debat kandidat ini akan jadi kesempatan terakhir untuk meyakinkan pemilih skeptis bahwa dia adalah kandidat politik pertama kali mampu mengasumsikan kantor kepresidenan dan membalikkan asumsi bahwa dia tidak memiliki sikap yang temperamental.

CNN INTERNATIONAL | LARISSA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan