Joserizal Jurnalis, Che Guevara Tanpa Senjata

Senin, 04 Agustus 2014 | 20:00 WIB
Joserizal Jurnalis, Che Guevara Tanpa Senjata
Dari kiri, Ketua Divisi Kontruksi MER-C, Faried Thalib Murad, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul, Presidium MER-C, Joserizal Jurnalis memberikan keterngan kepada wartawan mengenai penyerangan pasukan Israel ke jalur Gaza di Kantor MER-C di Jakarta, Senin (19/11). TEMPO/Dasril Roszandi



Di Gaza, Palestina, sudah berdiri Rumah Sakit Indonesia, namun belum bisa dioperasionalkan juga sejak dibangun pada 2008, apa kendalanya?
Kami juga ingin memfungsikan dengan cepat. Tapi dalam waktu dekat tidak mungkin. Kami butuh dana awal Rp 15 miliar dulu dari estimasi total Rp 65 miliar untuk memfungsikan ruang gawat darurat, satu kamar operasi, 20 perawatan perempuan, 20 perawatan laki-laki, dan satu paket laboratorium, juga portable X Ray.

Kapan itu terealisasi...
Kalau konflik saat ini berkepanjangan agak susah. Kalau jeda tiga hari saja, kami bisa mencukupi itu. Supplier di Gaza saat ini tutup semuanya.

Apakah sudah diperlukan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan dokter ahli bedah ke Gaza?
Baru 19 relawan dikirim. Kami akan kirim dokter kalau Israel melakukan serangan darat secara masif.

Siapa-siapa saja relawan itu...
Tenaga medis dan tiga reporter--yang terus mengirim informasi. Tujuannya agar masyarakat tahu berita akurat dari sana. Karena rumah sakit ini dana masyarakat. Publik berhak tahu.

Berita yang disampaikan para reporter itu sementara ini apa?
Ada hujan roket. Tapi itu bukan porsinya MER-C, kami hanya terkait kesehatan saja dan pembangunan rumah sakit. Kita fokus di situ.

Mereka masuk lewat mana untuk sampai ke Gaza...
Lewat Rafah, Mesir.

Tidak dihalangi oleh tentara Mesir, apalagi setelah penggulingan Presiden Mursi pada 3 Juli 2013 lalu, mereka menghancurkan terowongan bagi akses pasokan ke dan dari wilayah Gaza?
Memang dicek visa secara ketat, dan untuk masuk Rafah itu perlu ijin intelejen. Ini penting. Kita dibantu Duta Besar RI di sana. Kita riwayatnya jelas kok, di sana bangun rumah sakit.

Rumah Sakit Indonesia tidak dijadikan Israel sebagai target?
Tidak. Paling terkena imbas bom saja--yang membuat rontok atap--tapi tidak parah. Lagipula ada bendera Indonesia sebesar bagong di atasnya.

Di beberapa media asing, Rumah Sakit Indonesia diisukan merangkap sebagai sarang militan?
Itulah pembentukan opini Israel. Lucunya pemicu perang adalah tiga remaja Israel yang diculik dan dibunuh di Tepi Barat. Tapi yang diserang Gaza. Memang Israel suka-suka. Di perairan internasional pada 2010 kapal Mavi Marmara saja, diserbu Israel, padahal membawa bantuan kemanusiaan.



Selanjutnya...



Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan