Pendidikan Mengubah Wajah Finlandia  

Rabu, 21 Mei 2014 | 20:39 WIB
Pendidikan Mengubah Wajah Finlandia  
Calon siswa mengikuti tes tertulis perdana saat peresmian sekolah Bosowa International School di Makassar (17/6). Bosowa International School tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan Indonesia dan mampu bersaing ditingkat internasional khususnya wilayah timur Indonesia. TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO.CO, Jakarta - Seabad lalu, Finlandia adalah negara yang relatif tertinggal di kawasan Eropa. Namun, dengan kesungguhan memajukan pendidikan, kini citra Finlandia telah berubah.

"Kami kini dikenal sebagai negara maju dan inovatif," kata Profesor Eero Ropo, praktisi pendidikan di Sekolah Pendidikan-Universitas Tampere, Finlandia, di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu, 21 Mei 2014.

Profesor Eero Ropo berbagi pengalaman dengan para praktisi pendidikan di Indonesia dalam seminar tentang sistem dan pengalaman pendidikan yang digelar kedutaan Finlandia ini. Salah satu kunci sukses Finlandia, menurut Eero Ropo, adalah keseriusan upaya mencetak guru. Setiap tahun ada 2.000-an pelamar di Sekolah Pendidikan-Universitas Tampere, tapi hanya 25 orang yang diterima.

Mereka inilah yang belajar dengan ketat untuk menjadi guru, dengan mata kuliah pedagogi, sains, seni, dan keragaman budaya. "Kami sangat selektif. Hanya mereka yang punya kecintaan, passion pada pendidikan yang diterima," kata Eero Popo.

Kualifikasi yang harus dimiliki guru di Finlandia memang tinggi. Guru harus mengikuti perkembangan setiap murid, mendorong kualitas personal setiap murid. Tidak ada sistem ujian nasional. Guru harus terlibat di dalam kelas secara utuh, dan setiap murid punya jalur pengembangan pribadi. Setiap murid didorong berdaya inovatif, berani membuat terobosan sebagai problem solver--pemecah persoalan.

Seluruh mata pelajaran di Universitas Tempere berbasis pada praktek. Hanya melalui pengalaman praktek--bermain musik, bereksperimen matematika, atau membuat karya seni, seorang guru bisa memahami apa yang akan disampaikan kepada murid. "Kesalahan tentu terjadi saat bereksperimen, itu wajar. Kita belajar melalui kesalahan," kata Riitta Juusenaho, Direktur Proyek Pendidikan di Kota Tampere.

Riitta Juusenaho juga menekankan bahwa kita hidup di zaman milenium. Zaman berubah, tantangan jauh lebih kompleks dan berbagai hal terkait. Guru, karena itu, berperan sebagai fasilitator belajar, bukan lagi penceramah yang gemar menakuti murid dengan berbagai hukuman. Inovasi, kreativitas, dan otentik adalah lingkungan belajar yang harus diciptakan para guru.

"Pendidikan adalah segalanya bagi kami, para guru. Semangat itu yang ingin kami tularkan," kata Juusunaho. Semangat menjadi pendidik yang berdedikasi inilah yang menjadikan Finlandia selalu berada pada peringkat teratas dalam survei PISA, yang diselenggarakan di 500 ribu sekolah di seluruh dunia.

MARDIYAH CHAMIM






Berita Terpopuler
Mahfud Dijanjikan Jabatan Lebih dari Menteri 
Kecewa pada PKB, Mahfud: Selesai Tugas di Partai
ITB Tak Otomatis Terima Siswa Bernilai UN Tinggi  

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan