TEMPO.CO, London - London School of Economics (LSE) dituduh memberikan perlakuan khusus kepada bekas Menteri Keuangan Mesir, Youssef Boutros-Ghali. Dia tampak hadir dalam kuliah umum di kampus itu pada Senin malam, 9 Januari 2012, beberapa bulan setelah Pengadilan Kairo secara in absentia menghukumnya 30 tahun penjara karena mengambil keuntungan dan menyalahgunakan aset negara dan pribadi.
Youssef Boutros-Ghali, keponakan bekas Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Boutros Boutros-Ghali, digiring keluar melalui pintu samping oleh petugas keamanan kampus itu beberapa saat sebelum kuliah berakhir. Dia disorot di Mesir sebelum revolusi tahun lalu sebagai figur yang korup dan menguntungkan kaum kaya.
Para mahasiswa yang menghadiri perkuliahan mengatakan mereka terkejut atas kehadiran Boutros-Ghali. “Para petinggi LSE harus malu pada dirinya sendiri,” kata Dina Makram-Ebeid, mahasiswa pascasarjana antropologi asal Mesir yang berdiri saat perkuliahan berlangsung dan mengatakan dia dan mahasiswa lainnya kaget dengan kehadiran Boutros-Ghali.
“Pria ini seorang penjahat di Mesir yang harus menjalani hukuman penjara 30 tahun. Saya tidak mengira LSE memunculkan dia secara diam-diam seperti ini,” ujarnya.
Boutros-Ghali hidup dengan bebas di London, Inggris, meski menghadapi tuntutan korupsi di negaranya. Peringatan Interpol, yang mencari informasi keberadaannya, dikeluarkan setelah dia meninggalkan Mesir, tetapi polisi tak bisa menahannya di Inggris sampai Mesir mengeluarkan surat perintah penahanan.
Makram-Ebeid, yang mengaku berada di Lapangan Tahrir di Kairo tahun lalu dalam unjuk rasa melawan rezim Husni Mubarak, mengatakan dia akan mengajukan gugatan terhadap LSE. Dia mengirim gambar Boutros-Ghali melalui akun Twitter-nya selama perkuliahan dan meminta warga Mesir di London datang dan melabraknya.
Perkuliahan itu bertajuk “The Year of Egypt's Second Revolution: The Balance Sheet So Far” dibawakan oleh Profesor Roger Owen, ahli sejarah Timur Tengah dari Universitas Harvard.
Kedatangan Boutros-Ghali mengingatkan orang pada publikasi negatif LSE tahun lalu atas hubungannya dengan bekas diktator Libya, Muammar Qadhafi. Pada September 2011, Universitas Tripoli menyatakan meminta LSE mengembalikan uang £1,5 juta atau Rp 21,2 miliar yang dijanjikan putra Qadhafi, Saif al-Islam, yang mendapat gelar doktor di universitas itu.
Gehad Youssef, mahasiswa asal Mesir lainnya, juga mengatakan malam itu perkuliahan berlangsung di Teater Sheikh Zayed yang dinamai sesuai dengan nama bekas pemimpin Uni Emirat Arab. “LSE punya rekam jejak berhubungan dengan orang seperti ini dan saya pikir ini menjijikkan bahwa mereka memberikan perlindungan kepada buron internasional,” kata Youssef.
Seorang juru bicara LSE mengatakan bangku perkuliahan itu tidak dijual dan Boutros-Ghali tidak masuk dalam daftar tamu. “Beberapa orang peserta mengenalnya dan tampaknya ada pesan di Twitter yang mengatakan dia berada di sana dan ada orang memanggil yang lainnya untuk datang ke teater,” kata dia.
Dia mengatakan penjaga kampus masuk ke dalam teater dan menyarankan Boutros-Ghali dan orang-orangnya meninggalkan ruangan melalui pintu samping demi keselamatan mereka.
Pengadilan Kairo mendakwa Boutros-Ghali mengambil sejumlah mobil yang ditahan di bea cukai dan mengizinkan orang lain menggunakannya tanpa seizin pemiliknya. Dia mengambil enam mobil, termasuk tiga unit Mercedes-Benz dan satu unit BMW untuk kepentingan pribadi dan mengirimkan 96 mobil lainnya ke sejumlah partai.
Dia juga didakwa menggunakan pusat percetakan kementerian keuangan untuk mencetak sejumlah besar materi untuk kampanyenya merebut kursi parlemen pada 2010.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah Mesir dalam beberapa bidang, termasuk dalam bidang hukum. Namun, Inggris tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Mesir,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris.
GUARDIAN | SAPTO YUNUS
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan