Suriah Tidak Izinkan Inspeksi Senjata di Negaranya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Shara mengatakan bahwa tuduhan AS itu adalah sebuah alasan untuk mengalihkan perhatian dari kesulitan besar yang dihadapi oleh tentara AS di Irak. Suriah tidak akan memperbolehkan inspeksi terhadap kekuatan militernya maupun wilayahnya, dalam rangka membuktikan tuduhan AS mengenai kepemilikan Suriah atas senjata kimia. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Suriah Faruq Al Shara, Kamis (17/4). Damaskus hanya akan berperan dalam melucuti seluruh senjata pemusnah massal, senjata kimia, senjata biologis atau nuklir di wilayah Timur Tengah, jika bersama-sama dengan saudara Arab lainnya dan seluruh negara di dunia, ujar Shara usai melakukan pembicaraan dengan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Shara mengungkapkan pernyataan itu, menjawab pertanyaan dari wartawan, mengenai sikap Suriah dalam menanggapi kemungkinan adanya kunjungan dari tim inspeksi senjata PBB, seperti yang sebelumnya telah dilakukan di Irak. Namun, kesiapan tersebut berakhir pada penyerangan tentara AS ke Irak. Usai pembicaraan dengan Ketua Liga Arab AmrMussa, ia berkata, Kita tidak memberikan otorisasi kepada sesuatu yang ilegal. kami menghormati piagam PBB, dan tidak akan mengabaikan kemerdekaan dan harga diri kami. Pada Rabu (16/4) lalu, Suriah mengajukan rancangan resolusi kepada Dewan Keamanan PBB, yang berisi tawaran untuk membuat Timur Tengah sebagai kawasan bebas dari senjata pemusnah massal. Pada saat yang sama Duta Besarnya untuk PBB, Mikhail Wehbe, mengatakan bahwa Israel adalah satu-satunya negara di kawasan itu yang tidak menanda tangani perjanjian larangan senjata. Dua hari sebelumnya, Washington menuduh Suriah telah menjalankan tes persenjataan kimianya, dalam 15 bukan terakhir. Hal itu dilanjutkan dengan pernyataan dari Menteri Luar Negeri AS Collin Powell, yang mengatakan akan memberi sanksi ekonomi dan diplomatik kepada Suriah. Walaupun, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Collin Powell akan melakukan perjalanan ke Suriah untuk meredakan ketegangan yang meningkat. Sementara menolak tuduhan dari AS itu, Shara mengeluarkan pernyataan yang cukup moderat, dan mengulangi permintaan Suriah untuk melakukan dialog dengan AS. Saya pikir dialog antar kedua negara adalah suatu kebutuhan bersama, ujarnya. AS juga telah menuduh Suriah melakukan penyelundupan material perang ke Irak dan menampung tokoh-tokoh rejim lama Irak yang menyelundup ke sana. Namun, hal itu berkali-kali dibantah oleh Suriah. Hubungan antar Suriah dengan Irak belum pernah membaik sejak beberapa tahun yang lalu, Shara menjelaskan. Shara mengatakan bahwa tuduhan AS itu adalah sebuah alasan untuk mengalihkan perhatian dari kesulitan besar yang dihadapi oleh tentara AS di Irak. Kampanye (anti Suriah) boleh jadi dilakukan dalam rangka memenuhi keinginan Israel,ujar Shara. Ia juga menambahkan bahwa beberapa orang Fundamentalis di Washington mengatakan bahwa Irak hanyalah titik awal untuk mengubah peta kekuasaan di wilayah itu. Menteri Luar Negeri menolak keinginan AS atas Damaskus untuk menghentikan dukungan kepada Pasukan Pejuang Islam Lebanon Hizbullah. Penjajahan Israel harus berakhir, maka tidak akan perlu lagi ada organisasi perlawanan, tegasnya. (AFP /Indra Darmawan TNR)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.