Pengajar dan Siswa Pesantren Ibnu Mas'ud Terlibat Jaringan ISIS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hatf pergi ke Suriah bersama sekelompok kerabat pada tahun 2015, bergabung dengan sekelompok pejuang Prancis. Reuters berbicara dengan tiga pejabat kontra-terorisme di Indonesia yang mengkonfirmasi bahwa anak laki-laki tersebut pergi ke Suriah. REUTERS/Beawiharta

    Hatf pergi ke Suriah bersama sekelompok kerabat pada tahun 2015, bergabung dengan sekelompok pejuang Prancis. Reuters berbicara dengan tiga pejabat kontra-terorisme di Indonesia yang mengkonfirmasi bahwa anak laki-laki tersebut pergi ke Suriah. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Sukajaya - Sejumlah pengajar dan siswa Pesantren Ibnu Mas'ud yang berlokasi di kaki Gunung Salak di Desa Sukajaya, Tamansari, Bogor, telah terbang ke Suriah guna bertempur dan menjadi martir untuk ISIS.

    Sedikitnya 18 orang yang terkait dengan Pesantren Ibnu Mas'ud telah ditangkap dan dijatuhi hukuman karena terlibat dalam perencanaan dan serangan milisi ISIS di Indonesia, termasuk tiga serangan teror paling mematikan dalam 20 bulan terakhir.

    Baca: Buya Syafii Maarif Sebut ISIS Itu Rongsokan Peradaban Arab
     
    Mengutip Reuters, sedikitnya 12 orang dari Pesantren Ibnu Mas'ud terbang ke Timur Tengah untuk bertempur bersama ISIS pada 2013 dan 2016. Sebanyak 12 orang itu terdiri atas 8 guru dan 4 siswa.

    Warga sekitar juga sudah lama mencurigai aktivitas Pesantren Ibnu Mas'ud. 

    "Setiap terjadi peristiwa teror di mana pun, aparat datang. Saya tidak merasa nyaman dengan semua situasi ini," kata Wahyudin Sumardi, Kepala Desa Sukajaya.

    Juru bicara Pesantren Ibnu Mas'ud, Jumadi, membantah lembaga pendidikannya itu mendukung ISIS atau kelompok milisi Islam lainnya. Ia juga membantah pesantren tersebut mengajarkan tentang interpretasi Islam secara ekstrem.

    Kepala Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Irfan Idris menumpahkan kesalahan pada hukum dan birokrasi karena tidak ada tindakan terhadap pesantren seperti itu.

    Baca: Lewat Video, ISIS Nyatakan Perang Melawan Indonesia dan Malaysia

    "Pada dasarnya, ini bukan ranah kami, ini ranah Kementerian Agama. Kami telah menginformasikan ke Kementerian bahwa Anda menghadapi masalah dengan Ibnu Mas'ud," kata Irfan.

    Ternyata, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Ibnu Mas'ud tidak pernah terdaftar sebagai pesantren. Sekolah ini juga tidak terdaftar di Kementerian.

    Menurut Amin, pemerintah daerah setempat telah diminta menjelaskan mengenai status sekolah ini, namun tidak mendapat respons.

    Jumadi pun membenarkan bahwa Pesantren Ibnu Mas'ud tidak terdaftar di Kementerian Agama. Bahkan, menurut Jumadi, tidak ada kurikulum untuk sekolah itu.

    Baca: 16 Daerah Diduga Kantong ISIS, Panglima TNI: Tinggal Tunggu Waktu

    "Kami fokus pada tafsir, menghapal Al-Quran, dan hadis. Kami mengajari anak-anak mengenai bahasa Arab.”

    Jumadi menjelaskan, dia tidak mengetahui alasan mereka pergi bertempur ke Suriah untuk ISIS. Dia juga mengaku tidak mengetahui beberapa anak muda dan pengajar yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

    Setelah mendapat keluhan warga, aparat desa setempat meminta Pesantren Ibnu Mas'ud keluar dari desa itu, namun Jumadi menjelaskan, pihaknya pekan ini akan melakukan negosiasi untuk tetap bertahan.

    Jika tetap didesak keluar dari desa itu karena dicurigai jaringan ISIS, Jumadi mengatakan pihaknya akan mencari tempat lain untuk lokasi pesantrennya.

    REUTERS | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.