Dikira Pemberontak, India Bunuh Mahasiswa Kashmir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak laki-laki berlindung di balik papan, agar terhindar dari batu dan botol, saat terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi India di Srinagar, Kashmir, 19 Mei 2017. AP/Dar Yasin

    Seorang anak laki-laki berlindung di balik papan, agar terhindar dari batu dan botol, saat terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi India di Srinagar, Kashmir, 19 Mei 2017. AP/Dar Yasin

    TEMPO.CO, Srinagar - Militer India membunuh seorang mahasiswa Kashmir tak bersenjata yang mereka tuding sebagai pemberontak.  Menurut Shahid Bashir Mir, pemimpin unjuk rasa di Handwara, pada Kamis, 24 Agustus 2017, remaja berusia 19 tahun itu tewas dibedil pada Selasa, 22 Agustus 2017, oleh anggota militer India.

    Dia menjelaskan, warga Desa Daril Tarthpora itu tewas ketika terlibat bentrok dengan polisi. Untuk itu mereka menuntut pemerintah melakukan investigasi terhadap anggota militer yang terlibat dalam pembunuhan Mir.

    Baca: Pakistan Protes Soal Kashmir, India Tutup Akses Informasi

    Beberapa media menyebutkan, para pengunjuk rasa membawa jenazah Mir yang terbungkus peti mati, namun mereka menolak menguburkannya hingga pemerintah melakukan investigasi atas kematiannya.

    Kepala Kepolisian Kashmir, Muneer Khan, mengatakan kepada wartawan bahwa Mir adalah korban sipil dan tidak ditemukan senjata ketika dia tewas ditembak.

    "Penyebab kematian Mir perlu diselidiki," ucap Khan.

    Militer India mengklaim bahwa mereka pada Selasa itu membunuh seorang militan pemberontak ketika adu senjata di sebuah hutan desa.

    Hasil identifikasi korban menyebutkan, dia adalah seorang mahasiswa Akademi Handwara yang hilang selama dua hari.

    Keluarga korban mengatakan kepada Al Jazeera, Mir diciduk anggota tentara dan hilang selama dua hari.

    "Setelah itu kami tidak melihatnya lagi. Saya sudah pergi ke sejumlah tempat, ke hutan, ke setiap desa namun saya tidak menemukannya," kata ayah Shahid, Bashir Ahmar Mir. Ternyata mahasiswa Kashmir itu  tewas dibunuh militer India. 

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.