Dubes Korea Utara untuk Negara Besar Ditarik Pulang, Ada Apa?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersama para pejabat militer dan pemerintah saat tiba untuk meresmikan terselesainya pembangunan komplek perumahan terbesar di jalan Ryomyong, di Pyongyang, Korea Utara 13 April 2017. Proyek perumahan Ryomyong Street itu merupakan sekumpulan menara permukiman yang berbentuk lingkaran, kotak, dan segi delapan. AP Photo

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersama para pejabat militer dan pemerintah saat tiba untuk meresmikan terselesainya pembangunan komplek perumahan terbesar di jalan Ryomyong, di Pyongyang, Korea Utara 13 April 2017. Proyek perumahan Ryomyong Street itu merupakan sekumpulan menara permukiman yang berbentuk lingkaran, kotak, dan segi delapan. AP Photo

    TEMPO.CO, Pyongyang—Seluruh Duta Besar Korea Utara untuk negara-negara besar di dunia dipanggil pulang untuk melakukan pertemuan di Pyongyang. Pemanggilan para diplomat itu terjadi di tengah situasi yang memanas di Semenanjung Korea.

    Dubes Korut untuk Cina; Ji Jae-ryong, Dubes Korut untuk Rusia; Kim Hyong-jun dan Dubes  Korut untuk PBB; Ja Song-nam, termasuk yang dipanggil pulang oleh pemerintah Kim Jong-un.

    ”Korea Utara menggelar pertemuan kepala misi diplomatik asing setelah memanggil duta besarnya untuk negara-negara besar pulang ke Pyongyang,” kata seorang pejabat pemerintah Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Yonhap, Senin 14 Agustus 2017.

    Baca: Korea Utara Dihukum, Trump Berterima Kasih ke Cina dan Rusia

    Pemerintah Korea Selatan mengindikasikan bahwa pemanggilang pulang para Dubes ke Pyongyang ini untuk pertemuan rutin para dubes untuk menghadapi sanksi ekonomi internasional.

    ”Korea Utara mengadakan pertemuan ke-43 para duta besar pada bulan Juli 2015 dan (pertemuan terakhir) tampaknya sesuai dengan itu,” kata Kementerian Unifikasi Korea Selatan melalui seorang juru bicara.

    Pyongyang belum merilis pernyataan resmi apapun mengenai pertemuan para dubesnya yang dipanggil pulang.

    Namun, langkah itu juga kemungkinan juga terkait krisis Semenanjung Korea yang terus memanas.

    Situasi di Semenanjung Korea memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan rezim Kim Jong-un terlibat perang kata-kata, di mana kedua pihak saling mengumbar retorika perang.

    Trump mengancam akan merespons Korea Utara dengan “api dan amarah” jika nekat menggunakan senjata nuklir untuk menyerang Amerika Serikat. Pyongyang pun membalas dengan akan menyerang Guam, wilayah AS di Pasifik, dengan empat rudal balistik jarak menengah.

    THE STRAITS TIMES | YAHOO NEWS | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.