Ini Cara Intelijen Korea Selatan Agar Park Geun-hye Jadi Presiden  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden Park Geun-hye bersama penyidik dalam berjalan ke Pusat Deteksi Seoul di Uiwang, Provinsi Gyeonggi, 31 Maret 2017. Korea Times

    Mantan Presiden Park Geun-hye bersama penyidik dalam berjalan ke Pusat Deteksi Seoul di Uiwang, Provinsi Gyeonggi, 31 Maret 2017. Korea Times

    TEMPO.CO, Seoul — Badan intelijen Korea Selatan mengaku pernah memanipulasi data demi kemenangan partai konservatif yang dipimpin Park Geun-hye dalam pemilu parlemen dan pemilu presiden 2012.

    Seperti dilansir Guardian, Jumat, 4 Agustus 2017, penyidik internal Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan mengungkapkan dalam hasil penyelidikannya, bahwa unit siber NIS mengatur dan mengoperasikan 30 tim selama lebih dari dua tahun sebelum pilpres Desember 2012 berlangsung.

    Ketika itu Korea Selatan masih dipimpin Presiden Lee Myung-bak yang konservatif.

    Baca: Pilpres Korea Selatan, Jumlah Pemilih Diprediksi Capai Rekor

    Mereka menyewa warga sipil yang melek Internet dan berusaha mempengaruhi pendapat pemilih melalui unggahan di portal dan sejumlah media sosial, termasuk Twitter.

    "Tim-tim tersebut menyebarkan pendapat pro-pemerintah dan menekan pandangan anti-pemerintah, membuat pandangan oposisi agar dianggap sebagai pandangan pro-Korea Utara yang ingin menganggu urusan negara," demikian pernyataan NIS.

    Berkat kecurangan ini, pemilihan presiden Desember 2012 kembali dimenangi kubu konservatif, Park Geun-hye, yang mengalahkan Moon Jae-in dari kubu liberal.

    Selama pilpres, Moon yang merupakan imigran dari Korea Utara, digambarkan sebagai tokoh yang lemah menghadapi ancaman agresi dari negeri jiran itu.

    Berdasarkan investigasi NIS, skala manipulasi suara pilres 2012 bahkan jauh lebih luas dari perkiraan awal selama ini.

    Pilpres 2012 akhirnya dimenangi Park Geun-hye, presiden perempuan pertama Korea Selatan dari partai konservatif Saenuri, yang tidak lain adalah sahabat Lee Myung-bak.

    Namun, Park dimakzulkan karena tersangkut kasus korupsi dan nepotisme pada Maret 2017. Ia pun kemudian digantikan rival bebuyutannya, Moon Jae-in, pada Mei lalu.

    Namun hasil penyelidikan internal NIS menuai protes dari kubu Park. Juru bicara Park menuding penyelidikan ini memiliki motivasi politik.

    “NIS berjanji akan menjauh dari politik, tapi ia kembali ke kancah politik dengan penyelidikan ini,” ujar Kang Hyo-sang, dari partai oposisi Pembebasan Korea.

    Beberapa tahun terakhir, kredibilitas NIS dipertanyakan karena sejumlah skandal yang menyeret nama badan intelijen tersebut.

    Salah satu skandal yang menjadi sorotan publik Korea Selatan adalah kasus pembuatan dokumen intelijen palsu terkait dengan mantan pejabat Kota Seoul yang lolos dari Korea Utara pada 2004.

    Presiden Moon yang menggantikan Park Geun-hye pun bersumpah akan mereformasi kinerja NIS agar tak lagi mempengaruhi pemilu dalam negeri. Ia mendesak badan intelijen itu agar lebih berfokus kepada ancaman dari luar terutama dari tetangga Korea Utara.

    GUARDIAN | BBC | THE GLOBAL POST | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.