Bom Bunuh Diri di Afganistan, 12 Orang Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan keamanan Afghanistan menyisir lokasi serangan bom di Kabul, Afganistan, 3 Mei 2017. Serangan bom bunuh diri di dekat gedung Kedubes AS ini  menewaskan 8 warga sipil dan 3 tentara AS. REUTERS/Omar Sobhani

    Pasukan keamanan Afghanistan menyisir lokasi serangan bom di Kabul, Afganistan, 3 Mei 2017. Serangan bom bunuh diri di dekat gedung Kedubes AS ini menewaskan 8 warga sipil dan 3 tentara AS. REUTERS/Omar Sobhani

    TEMPO.CO, Kabul - Sedikitnya 12 orang tewas dan 10 orang luka-luka setelah bom bunuh diri meledak dari sebuah mobil di ibu kota Afganistan, Kabul. Kepada kantor berita AFP seperti dikutip Al JAzeera, Juru bicara kepolisian setempat, Najib Danish, mengatakan sasaran ledakan bom pada Senin, 24 Juli 2017, itu tidak jelas.

    Baca: Di Afganistan, 4 Tentara Amerika Tewas Ditembak Kalangan Sendiri

    Najib menjelaskan, serangan bom bunuh diri itu terjadi sebelum pukul 07.00 waktu setempat. Lokasinya di kawasan berpenduduk minoritas Syiah Hazaras, komunitas yang teraniaya. "Bom itu meledak di rumah pemimpin Hazara, Mohammed Mohaqeq," kata Danish.

    Peristiwa ini menambah jumlah kekerasan di Afganistan yang ditimbulkan oleh serangan bom bunuh diri, yang mengakibatkan 1.662 warga sipil dari semester pertama 2017. Ledakan itu berjarak hanya dua pekan setelah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerang sebuah masjid di Kabul yang menewaskan setidaknya empat orang.

    Baca: Amerika Serikat Bantah Tentaranya Tewas Ditembak di Afganistan

    Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kabul telah menyumbangkan sedikitnya 20 persen penduduk sipil yang tewas pada tahun ini, termasuk 150 orang tewas dalam serangan masif sebuah bom truk di Kabul pada Mei 2017. Bom bunuh diri ini menambah kengerian penduduk Kabul.

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.