Duterte Ultimatum Militer Berangus Teroris di Marawi dalam 3 Hari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota tentara menggendong anak-anak yang baru saja diselamatkan dari rumah mereka, saat konflik antara tentara Filipina melawan kelompok Maute di desa Papandayan, kota Marawi, Filipina, 31 Mei 2017. Tak hanya kehilangan rumah, anak-anak malang ini juga tempat bermain yang aman. REUTERS/Romeo Ranoco

    Anggota tentara menggendong anak-anak yang baru saja diselamatkan dari rumah mereka, saat konflik antara tentara Filipina melawan kelompok Maute di desa Papandayan, kota Marawi, Filipina, 31 Mei 2017. Tak hanya kehilangan rumah, anak-anak malang ini juga tempat bermain yang aman. REUTERS/Romeo Ranoco

    TEMPO.CO, Marawi City -Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengultimatum militer agar dalam tempo tiga hari memberangus kelompok teroris Maute yang berafiliasi ke ISIS di Marawi, Mindanao. 

    Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Kolonel Edgard Arevalo mengatakan  meski waktu yang diberikan sangat singkat namun ia percaya keamanan warga sipil tetap menjadi perhatian terpenting.

    Baca juga: Gencatan Senjata Gagal, 2.000 Orang Masih Terjebak di Marawi

    "Kurun waktu yang diberikan Presiden kepada kami hanya 3 hari, jadi akan mengerahkan semua upaya. Ketika berbicara tentang keselamatan warga sipil sebagai prioritas, kita berbicara tentang mengeksplorasi berbagai cara," kata Arecalo, seperti yang dilansir ABS-CBN News pada 5 Juni 2017.

    Jumlah korban tewas perang di Marawi telah mencapai 178 orang termasuk 120 korban jiwa di pihak teroris, 36 tentara pemerintah dan 20 warga sipil, yang dilaporkan tertembak oleh penembak jitu saat dalam perjalanan menuju tempat aman.

    Baca juga: Aksi Heroik Tokoh Muslim Marawi Melindungi Warga Kristen

    Sekitar 134 warga sipil telah diselamatkan dalam gencatan senjata yang berlangsung pada Minggu, 4 Juni 2017. Namun pihaknya menyesalkan tindakan kelompok teroris Maute yang memisahkan Muslim dan Kristen yang melarikan diri dari wilayah konflik.

    "Sangat menyedihkan bahwa kita mendapatkan laporan bahwa para teroris memisahkan orang-orang Kristen dan Muslim yang melarikan diri. Mereka membiarkan orang-orang Muslim pergi tapi tidakuntuk orang Kristen," ujar Arevalo.

    Arevalo menambahkan bahwa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina, Eduardo Ano telah menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap kemungkinan untuk mengumumkan gencatan senjata lainnya di Marawi sehingga militer dapat menyelamatkan lebih banyak warga sipil.

    ABS-CBN NEWS|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.