'Bakso Bejo', Warung Bakso Indonesia di Korea Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar RI terpilih untuk Korea Selatan, Umar Hadi bersama Subandi, pengusaha Bakso Bejo di Korea Selatan, 25 Mei 2017. (Foto: KBRI Seoul)

    Duta Besar RI terpilih untuk Korea Selatan, Umar Hadi bersama Subandi, pengusaha Bakso Bejo di Korea Selatan, 25 Mei 2017. (Foto: KBRI Seoul)

    TEMPO.CO, Seoul – Di Korea Selatan, seorang mantan tenaga kerja asal Indonesia kini menjadi pengusaha bakso yang keren. Bagi kalangan warga Indonesia di Korea Selatan, nama “Bakso Bejo Korea” sudah cukup masyhur.

    Inilah satu-satunya bakso “made by WNI” di Negeri Ginseng yang tersebar di lima kota dengan puluhan cabang. Bahkan ada seloroh, belum sampai Korea Selatan kalau belum merasakan “Bakso Bejo”.

    Keberhasilan pengusaha ini mengusik Duta Besar terpilih RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, untuk menemuinya, bahkan ingin menggandengnya menjadi importir.

    Saat ditemui Dubes Umar, si pemilik warung bakso, Haji Subandi, pun berkisah. Usaha itu dirintisnya dua tahun lalu dengan modal hanya 200 ribu won atau sekitar Rp 2,3 juta.

    Subandi mencoba-coba membuat bakso dan meminta teman-temannya mencicipi. Ketika sudah “maknyus”, ia mulai berpromosi melalui media sosial.

    ”Saat ini, setiap hari saya bisa habis satu sapi dan mengirim bakso ke berbagai kota hingga 1 ton. Dalam sebulan, saya dapat untung ratusan juta rupiah. Alhamdulillah,” katanya.

    Dubes Umar bertandang ke “markas” Bakso Bejo pada 25 Mei 2017. Mantan Konsul Jenderal RI di Los Angeles, Amerika Serikat, itu menggagas pembukaan cabang Bakso Bejo di ibu kota Korea Selata, Seoul. Mantan Wakil Dubes RI di Denhaag, Belanda, itu juga mendorong Subandi menjadi importir dari Indonesia.

    ”Hampir semua produk makanan Indonesia yang dijual di Korea diimpor oleh perusahaan setempat. Akibatnya, kita tidak bisa mengontrol harga. Harus ada WNI yang mulai mengimpor, dan saya akan memberi bantuan,” kata Umar sambil menikmati bakso Bejo, seperti disampaikan dalam rilis yang diterima Tempo.

    Selain itu, mengingat terdapat 38 ribu WNI di Negeri Kimchi, sangat mungkin membuat semacam pusat jajan Indonesia di kota yang padat WNI-nya. Tempat tersebut juga harus dilengkapi dengan masjid tempat berkumpulnya warga.

    ”Saya kira Pak Bandi punya potensi menjadi pionir pengusaha Indonesia di Korea. Jiwa bisnisnya terasah dan pengetahuan Koreanya paripurna,” Umar menambahkan.

    Subandi menyatakan siap menjalankan bisnis yang lebih besar. Lebih jauh, dia sudah berencana lebih banyak beramal dari segala keuntungan bisnisnya.

    NATALIA SANTI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.