Pemilu Iran, Ali Khamenei Tak Peduli Siapa Jadi Presiden

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memasukan surat suara dalam pemilihan parlemen negara dan Majelis Ahli di Tehran, 26 Februari 2016. Jajak pendapat ini adalah yang pertama sejak Iran dan dunia menyetujui kesepakatan atas program nuklirnya. REUTERS/leader.ir/Handout via Reuters

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memasukan surat suara dalam pemilihan parlemen negara dan Majelis Ahli di Tehran, 26 Februari 2016. Jajak pendapat ini adalah yang pertama sejak Iran dan dunia menyetujui kesepakatan atas program nuklirnya. REUTERS/leader.ir/Handout via Reuters

    TEMPO.CO, Teheran - Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan, dirinya tidak penting siapa yang akan menjadi presiden setelah pemilihan pada Jumat, 19 Mei 2017.

    Menurut Khamenei, yang terpenting adalah para pemilih berbondong-bondong ke bilik suara untuk menentukan siapa pemimpin yang dikehendakinya.

    Menurut laporan kantor berita Tasnim, pernyataan itu disampaikan oleh Khamenei dalam sebuah pidato pada Rabu, 17 Mei 2017.

    "Pada akhirnya, seorang calon akan mendapatkan suara mayoritas dan menang, namun kemenangan yang sesungguhnya adalah proses pemilihan itu yakni suara mayoritas rakyat Iran dan rezim Repulik Islam," ucapnya.

    Khamenei memperingatkan kemungkinan terjadinya kerusuhan selama pemilihan, dengan mengatakan, "Kemungkinan seseorang akan mencoba melanggar hukum, namun kami percaya pada kemampuan sistem keamanan kami. Kita harus berhati-hati, karena rakyat Iran memiliki banyak musuh."

    Pemimpin Iran sering melihat bahwa pemilihan umum sebagai sebuah pembaruan kesetiaan masyarakat kepada Wilayat al-Faqih, Pemimpin Agung atau Imam dalam sistem politik Iran.

    Terlepas dari atmosfer ini, banyak pejabat di pemerintahan Iran takut peristiwa 2009 terulang kembali. Saat itu, jutaan orang memprotes hasil pemilihan umum Iran karena dianggap penuh kecurangan. Unjuk rasa berkembang menjadi rusuh massal melawan pemerintah. Namun aksi tersebut ditumpas oleh Pengawal Revolusi, Basij, pasukan keamanan dan dinas intelijen Iran.

    AL ARABIYA | CHOIRUL AMINUDDIN  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.