Otoritas Palestina Hentikan Suplai Obat ke Jalur Gaza

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa kondidi bayi kembar siam sehari setelah dilahirkan di Rumah Sakit Shifa, Kota Gaza, Palestina, 23 November 2016. Bayi yang lahir dengan kondisi sangat langka tersebut kini tengah berjuang untuk hidup di dalam inkubator. REUTERS

    Petugas memeriksa kondidi bayi kembar siam sehari setelah dilahirkan di Rumah Sakit Shifa, Kota Gaza, Palestina, 23 November 2016. Bayi yang lahir dengan kondisi sangat langka tersebut kini tengah berjuang untuk hidup di dalam inkubator. REUTERS

    TEMPO.CO, Gaza - Otoritas Palestina yang bermarkas di Ramallah menghentikan suplai alat kesehatan termasuk obat-obatan dan makanan bayi ke rumah sakit di Jalur Gaza.

    Munir Al-Barsh, Direktur Departemen Farmasi Kementerian di Gaza, mengatakan, Kementerian menyampaikan informasi kepada lembaganya baru-baru ini bahwa Ramallah tidak akan memperpanjang suplai ke Gaza, termasuk obat-obatan dan susu bayi.

    Barsh menuding bahwa keputusan tersebut berlatar belakang politik. Dia menambahkan, dirinya telah menghubungi pejabat senior di Kementerian Kesehatan di Tepi Barat "Untuk mempertanyakan maksud keputusan tersebut dan berapa lama."

    Dia memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memberikan dampak kondisi kesehatan di Gaza.

    "Ini sebuah keputusan yang dapat menimbulkan dampak buruk kepada warga Gaza, terutama terhadap penderita penyakit kronis dan anak-anak."

    Barsh mendesak lembaga kesehatan duna, World Health Organisation (WHO) dan lembaga internasional lainnya turut campur sebelum krisis kesehatan di Gaza.

    Penduduk Gaza berada dalam kepungan Israel selama lebih dari 10 tahun. Hampir seluruh pelintasan kota ditutup, barang kebutuhan rumah tangga dan bantuan dilarang masuk ke Jalur Gaza oleh Israel.

    MIDDLE EAST MONITOR | CHOIRUL AMINUDDIN  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.