Aljazair Mengusir 150 Wartawan Asing, Jurnalis Maroko Urutan Pertama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah imigran asal Aljazair melompat ke sambungan kereta barang yang akan melintasi perbatasan Yunani-Macedonia di Thessaloniki, Yunani, 7 April 2017. Para imigran terus mencoba melintasi perbatasan Yunani untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik.  REUTERS/Alexandros Avramidis

    Sejumlah imigran asal Aljazair melompat ke sambungan kereta barang yang akan melintasi perbatasan Yunani-Macedonia di Thessaloniki, Yunani, 7 April 2017. Para imigran terus mencoba melintasi perbatasan Yunani untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik. REUTERS/Alexandros Avramidis

    TEMPO.CO, Rabat – Otoritas Aljazair sedang menyiapkan daftar sejumlah jurnalis Arab yang dianggap harus meninggalkan negeri itu. Menurut laporan media setempat, jurnalis Maroko menempati urutan teratas.

    Situs berita Tunisa, Kapitalis, dalam laporannya mengatakan Aljazair akan menolak hampir seluruh reporter Maroko memasuki negara tersebut karena dianggap melakukan propaganda negatif.

    Keputusan pelarangan tersebut keluar terkait dengan liputan masalah pengungsi Suriah yang memasuki Aljazair melalui Maroko.

    Baca: Wartawati Kurdi Tewas Saat Meliput Operasi Militer di Mosul

    Selain Maroko, jurnalis lainnya yang dicegah masuk ke Aljazair berasal dari Mesir dan negara-negara Teluk.

    Adapun jurnalis Arab yang juga dilarang setelah mereka masuk daftar hitam antara lain presenter televisi Aljazeera asal Suriah, Faisal al-Kassim; bintang televisi Mesir, Amr Adib; serta penulis Arab Saudi, Saleh al-Fahid.

    Para jurnalis itu dilarang masuk karena beberapa liputannya dianggap menyerang para pejabat Aljazair, termasuk Presiden Abdelaziz Bouteflika.

    Al-Kassim diusir dari Aljazair sejak 2004 ketika dia pertama kali melaporkan masalah peran militer negara terhadap pembunuhan massal yang terjadi di Aljazair selama 1990-an.

    MOROCCO WORLD NEWS | CHOIRUL AMINUDDIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.