Dalam Sehari, Turki Menangkap 1.000 Pendukung Gulen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan khusus Turki menangkap 11 buronan yang terlibat dalam upaya kudeta yang gagal pada bulan lalu, di provinsi Mugla, Turki, 1 Agustus 2016. REUTERS/Kenan Gurbuz

    Pasukan khusus Turki menangkap 11 buronan yang terlibat dalam upaya kudeta yang gagal pada bulan lalu, di provinsi Mugla, Turki, 1 Agustus 2016. REUTERS/Kenan Gurbuz

    TEMPO.CO, Ankara - Pihak berwajib Turki menangkap lebih dari 1.000 orang yang kuat dugaan memiliki hubungan dengan ulama Fethullah Gulen, pada Rabu, 26 April 2017.

    Penangkapan ini salah satu hasil operasi terbesar sejak kudeta Juli 2016 di Turki terhadap jaringan ulama yang kini bermukim di Amerika Serikat itu.

    Baca: Pasca Kudeta, Turki Tangkap 113 Ribu Diduga Pendukung Gulen

    Petugas keamanan Turki mengataka penangkapan itu menyasar mereka yang masuk ke dalam struktur jaringan di pasukan kepolisian.

    "Perintah penahanan terhadap 1.000 orang itu dilancarkan dalam operasi keamanan di 81 provinsi," seperti dikutip Press TV, Rabu 26 April 2017.

    Tak lama setelah kudeta gagal pada Juli 2016, otoritas Turki menahan 40 ribu orang dan memecat atau menunda 120 ribu pangkat karyawan dari berbagai profesi, termasuk tentara, polisi, guru, pegawai negeri sipil dan orang-orang yang disangka memiliki jaringan dengan organisasi teroris.

    Penahanan terhadap orang-orang yang diduga menjadi pendukung Gulen itu berlangsung sehari setelah badan hak asasi Dewan Eropa menempatkan Turki sebagai negara yang harus dipantau menyusul hasil referendum awal April 2017 yang hasilnya memberikan kekuasaan lebih terhadap Erdogan.

    Baca: Siapa Fethullah Gulen, Sosok Tertuduh di Balik Kudeta Turki

    Dewan Eropa memiliki hubungan terpisah dengan Uni Eropa, tetapi keputusan lembaga tersebut dapat merusak hubungan Turki dengan Uni Eropa.

    Erdogan mengencam keputusan Dewan Eropa karena dianggap sangat politis. Bahkan Ankara menuduh Uni Eropa telah memusuhi Turki kendati negara itu menjadi benteng membendung arus pengungsi dari negara tetangganya, Suriah.

    "Erdogan mengancam keluar dari keanggotaan Uni Eropa jika terus memusuhinya," Euro News melaporkan.

    PRESS TV | EURO NEWS | CHOIRUL AMINUDDIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.