Kisah Bom Laptop Robek Lambung Pesawat Saat Terbang di Somalia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lubang bekas ledakan bom di pesawat Somalia. BBC.com

    Lubang bekas ledakan bom di pesawat Somalia. BBC.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Larangan membawa laptop dan telepon seluler oleh Amerika Serikat dan Inggris mengingatkan kembali pada peristiwa ledakan bom laptop di Mogadishu, Somalia, pada 2 Februari 2016.

    Berawal dari pernyataan maskapai Turkish Airlines yang menunda penerbangannya ke Djibouti dari Somalia gara-gara cuaca buruk di Djibouti. Sehingga 74 penumpang yang seharusnya terbang dengan maskapai Turki itu dipindah ke maskapai lain.

    Maskapai Daallo Airlines yang berkantor di Dubai dan memiliki jadwal rutin terbang dari Dubai ke Somalia dan Djibouti, menyanggupi membawa penumpang Turkish Airlines yang tujuannya ke Djibouti.

    Baca juga: Inggris Perketat Keamanan di Bandara dan Pembangkit Nuklir

    "Kami diberi tahu tentang perubahan ini beberapa jam sebelum berangkat," kata Mohamed Ibrahim Yasin Olad, Kepala Daallo Airlines, seperti dikutip dari BBC.

    Pesawat Daallo Airlines tipe Airbus 321 baru saja terbang sekitar 15 menit di ketinggian 3.350 meter dari permukaan laut. Mendadak terdengar ledakan dari kabin penumpang. Lambung pesawat robek sekitar satu meter lebarnya. Penumpang yang berada dekat lokasi robeknya pesawat diketahui membawa laptop.

    Ledakan itu mengagetkan penumpang dan awak pesawat. Untungnya ledakan itu tidak menganggu sistem navigasi pesawat sehingga pilot bisa segera berputar arah balik ke bandara di Mogadishu, Somalia. Pesawat mendarat di landasan. Tubuh pelaku meledak dan tercampak ke luar dari pesawat.

    Mengutip BBC, lebih dari 20 orang ditangkap terkait dengan ledakan bom laptop. Mereka merupakan jaringan milisi Somalia, al-Shabab.

    Baca juga: Australia Perketat Pemeriksaan Penerbangan dari Timur Tengah

    Milisi al-Shabab yang bermarkas di Somalia kemudian mengklaim bertanggung jawab atas ledakan laptop itu. Al-Shabab yang merupakan jaringan teroris al-Qaeda telah merancang target ledakan adalah pesawat Turkish Airlines yang akan membawa milisinya terbang bersama bom laptop ke Djibouti.

    Dalam pernyataan al-Shabab kepada Al Jazeera, bom laptop itu ditujukan untuk membunuh beberapa pejabat intelijen Barat dan pasukan NATO warga Turki yang menggunakan pesawat Turkish Airlines. Ternyata, pesawat batal berangkat karena cuaca buruk di Djibouti.

    Al-Shabab ingin membalas kejahatan pasukan NATO dan badan intelijennya yang memerangi muslim di Somalia.

    Penggunaan bom yang ditaruh dalam laptop merupakan yang pertama kali terjadi dalam aksi terorisme.

    Pekan lalu, Amerika dan Inggris telah mengeluarkan larangan untuk membawa laptop ke dalam kabin pesawat. Hari ini, intelijen mengeluarkan peringatan kepada Inggris untuk meningkatkan keamanan di bandara-bandara dan pembangkit nuklirnya.

    BBC | AL JAZEERA | DAILY MAIL | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.