Wabah Meningitis Renggut 269 Nyawa di Nigeria

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak yang kekurangan gizi ditimbang berat badannya di sebuah klinik yang dijalankan oleh Dokter di Maiduguri, Nigeria, 29 September 2016. Sebanyak 75.000 anak akan meninggal selama tahun depan dalam kondisi kelaparan jika bantuan tidak cepat datang. AP/Sunday Alamba, File

    Seorang anak yang kekurangan gizi ditimbang berat badannya di sebuah klinik yang dijalankan oleh Dokter di Maiduguri, Nigeria, 29 September 2016. Sebanyak 75.000 anak akan meninggal selama tahun depan dalam kondisi kelaparan jika bantuan tidak cepat datang. AP/Sunday Alamba, File

    TEMPO.CO, Abuja— Wabah meningtis merenggut 269 nyawa di Nigeria sepanjang beberapa pekan terakhir. Seperti dilansir Reuters, Rabu 29 Maret 2017, hal ini diungkapkan otoritas Pusat Penanggulangan Penyakit (NCDC) di negara dengan penduduk terbanyak di Afrika tersebut.

    Pemerintah setempat bersama sejumlah organisasi kemanusiaan internasional kini tengah berupaya membatasi penyebaran infeksi meningtis.

    Baca: Waspadai Meningitis, Apa Saja Gejalanya?

    Hingga Senin lalu, NCDC  mencatat ada 1.828 kasus yang diduga merupakan penyakit meningitis. Dari kasus-kasus tersebut, terdapat 269 kematian yang terjadi di 15 dari 36 negara bagian, kata NCDC dalam akun Twitter resmi mereka pada Selasa malam waktu setempat.

    Pusat penanggulangan penyakit tersebut, dalam laman resminya, mengatakan bahwa angka tersebut merupakan lonjakan yang tajam mengingat sepanjang tahun lalu, hanya 33 orang yang meninggal akibat penyakit yang sama.

    Pada 2009 lalu di Nigeria, lebih dari 2.000 orang tewas akibat wabah meningtis yang dengan cepat menyebar akibat terbatasnya jangkauan layanan kesehatan di wilayah-wilayah terpencil. Sebagian besar orang harus bertahan dengan pengeluaran kurang dari dua dolar AS per hari, meski Nigeria merupakan negara yang kaya akan kandungan minyak mentah.

    Meningtis adalah penyakit radang jaringan ikat di sekitar bagian otak dan saraf tulang belakang yang disebabkan oleh penularan atau infeksi bakteri. Penyakit itu menular melalui ciuman, bersin, batuk di ruangan tertutup.

    NCDC mengatakan bahwa pihaknya kini tengah bekerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), badan anak PBB (UNICEF), dan organisasi Dokter Lintas Batas (MSF), untuk membatasi penyebaran wabah meningitis.

    REUTERS | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.