Hari Air Sedunia: 1 dari 4 Anak Hadapi Kelangkaan Air pada 2040

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga bergantian mengisi air menggunakan botol jelang Hari Air Dunia di Bengaluru, India, 21 Maret 2017. REUTERS/Abhishek N. Chinnappa

    Sejumlah warga bergantian mengisi air menggunakan botol jelang Hari Air Dunia di Bengaluru, India, 21 Maret 2017. REUTERS/Abhishek N. Chinnappa

    TEMPO.CO, London—Memperingati Hari Air Sedunia, Rabu 22 Maret 2017, Badan Dunia untuk Anak-anak atau Unicef memperingatkan bahwa satu dari empat anak di dunia akan menghadapi kelangkaan air pada 2040 sebagai akibat dari perubahan iklim.

    Seperti dilansir The Guardian, dalam dua dekade mendatang sekitar 600 juta anak akan hidup di wilayah minim air. Laporan Unicef menjelang Hari Air Sedunia menegaskan bahwa anak dari keluarga paling miskin akan sangat dirugikan dan menderita dalam perebutan sumber daya air.

    Baca: Separuh Warga Jakarta Tak Nikmati Air Bersih

    Kondisi kekeringan dan konflik memicu kelangkaan air di Ethiopia, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan dan Yaman.

    Unicef memprediksi bahwa lebih dari 9 juta orang hidup tanpa air minum yang aman di Ethiopia tahun ini saja.

    Sementara hampir 1,4 juta anak-anak menghadapi risiko kematian akibat gizi buruk akut di Sudan Selatan, Nigeria, Somalia dan Yaman.

    Laporan Unicef, Haus akan Masa Depan: Air dan Anak dalam Perubahan Iklim, melihat ancaman terhadap kehidupan anak-anak dan kesejahteraan yang disebabkan oleh habisnya sumber air bersih dan bagaimana perubahan iklim akan meningkatkan risiko ini.

    Salah satu penulis laporan, Nicholas Rees, mengatakan bahwa Asia selatan dan Timur Tengah akan sangat terpengaruh oleh meningkatnya industrialisasi dan pergeseran demografi yang menyebabkan peningkatan konsumsi.

    "Di mana permintaan yang sangat tinggi maka kekurangan air akan meningkat. Ini akan terjadi di daerah urbanisasi yang meningkat cepat, seperti seluruh sub-Sahara Afrika dan Asia, "kata dia.

    Laporan PBB menunjukkan bahwa ada 36 negara di seluruh dunia yang menghadapi tingkat kekurangan air sangat tinggi karena permintaan jauh melebihi pasokan terbarukan yang tersedia. Kenaikan suhu, naiknya permukaan air laut, meningkatnya banjir, kekeringan dan mencairnya es mempengaruhi kualitas dan ketersediaan air, seperti halnya sistem sanitasi.

    Dampak perubahan iklim terhadap sumber air tidak bisa dihindari, menurut laporan, yang membuat serangkaian rekomendasi untuk membantu meminimalisir dampak perubahan iklim terhadap kehidupan anak-anak.

    Ini termasuk desakan bagi pemerintah untuk memprioritaskan akses ke air yang aman bagi anak-anak yang paling rentan, di atas kebutuhan air lainnya, dan bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi sumber air.

    "Kami ingin mengurangi kematian anak. Tapi kematian anak tidak akan berakhir tanpa mengatasi ancaman lingkungan yang mereka hadapi, "kata Rees.

    LSM WaterAid menerbitkan temuan pada Selasa lalu bagaimana rentannya perjuangan masyarakat pedesaan untuk mengakses air bersih sedang diperparah dengan peristiwa cuaca ekstrim dan perubahan iklim.

    India, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan rumah bagi hampir seperlima dari penduduk dunia, menduduki peringkat pertama dalam survei WaterAid tahunan sebagai memiliki jumlah terbesar dari orang yang hidup tanpa akses ke air bersih, yakni 63 juta orang.

    Sedangkan untuk kemajuan, kata laporan itu, Paraguay telah mencapai perbaikan terbesar untuk mendapatkan air bagi penduduk pedesaan. Lebih dari 94 persen penduduk pedesaan kini memiliki akses ke air yang aman, dibandingkan dengan 51,6 persen pada 2000.

    THE GUARDIAN | THE INDEPENDENT | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.