Misteri Kematian Umar Al-Faruq

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bagdad:Umar al-Faruq, yang disebut-sebut terlibat dalam sejumlah aksi pengeboman di Indonesia, dikabarkan tewas dalam baku tembak di Basrah, kota kedua terbesar di selatan Irak, Senin (25/9).Kabar itu diceritakan oleh Mayor Charles Burbridge, juru bicara Resimen Kerajaan Pangeran Wales, dua kompi pasukan Inggris yang bertugas di sana. Burbridge menyatakan 250 serdadunya mendapat hujan tembakan saat menggerebek rumah Al-Faruq. "Kami balas menembak dan Faruq tewas," ujar Burbridge. Juru bicara Kepolisian Basrah, Kolonel Abdul Karim al-Zaidy, mengatakan Faruq tewas dengan lima lubang peluru di tubuhnya. Namun, kematian Al-Faruq yang lahir di Kuwait pada 24 Mei 1971 itu masih misterius. Burbridge menolak menjawab saat wartawan bertanya apakah yang tewas itu benar-benar Faruq al-Iraqi, yang kabur dari kamp tahanan militer Amerika di Bagram, Afganistan, Juli 2005. Ia juga tak menunjukkan foto-foto jenazah Al-Faruq.Ali, tetangga Faruq, mengaku memang mendengar ada perkelahian sebelum senjata menyalak, lalu terdengar bentakan yang dijawab seruan "Allahu Akbar". Namun, Ali tak yakin Faruq ikut tewas dalam serangan itu. "Setahu saya ia berjenggot tebal," kata Ali, yang mengaku melihat jenazah orang yang disebut sebagai Al-Faruq itu tanpa jenggot. Jika kabar itu benar, berarti sudah dua tokoh Al-Qaidah yang tewas akibat serangan di Irak dalam setahun ini. Pada Mei lalu, Abu Muzab al-Zarqawi asal Yordania tewas dalam sebuah serangan udara. "Jelas ini mengejutkan," ujar Rita Katz, Direktur Search for International Terrorists Entities, organisasi peneliti kelompok teroris di Washington. "Mengapa ia bisa begitu mudah menyusup ke Irak dengan wajah yang mudah dikenali?" Menurut tetangganya, Faruq datang guna menjenguk ibunya yang sakit di Basrah. Selama di Basrah, Faruq memperkenalkan diri sebagai Mahmud Ahmed Mohamed al-Rashid--nama adat Sunni Arab di Basrah. Ia tinggal bersama sepupunya, Tariq, di Kota Zubayr, 32 kilometer dari perbatasan Kuwait. Intelijen rupanya mengendus kehadirannya. "Dan kami segera bereaksi," kata Burbridge. Sejak kabur dari tahanan superketat CIA di Bagram, 60 kilometer dari Kabul, pada Juli 2005, Faruq diduga bersembunyi di Afganistan. Tapi kalangan intelijen Amerika dan Inggris yakin ia menyepi di Kuwait. Faruq dikenal bisa mendapat akses lebih baik ke jaringan Islam radikal di Kuwait. Bagaimana Al-Faruq bisa lolos ke Irak 20 hari lalu juga masih teka-teki. Meski keturunan Irak--karena darah ayahnya--Faruq diperkirakan sulit menembus perbatasan yang dijaga ketat para intel Barat. Lokasi persembunyian Al-Faruq hingga menjelang tewas pun menimbulkan tanda tanya karena kawasan Irak selatan dihuni kaum mayoritas Syiah, yang akhir-akhir ini rajin memburu minoritas Sunni semacam Al-Faruq. AP | AFP | NYTIMES | AL-JAZEERA | ANDREE PRIYANTO

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.