Kerusuhan Sepak Bola di Angola, 17 Penonton Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Emmanuel Eboue (kiri) dari Pantai Gading menyundul bola  saat dikawal 2 pemain Angola pada pertandingan sepakbola Piala Afrika di Malabo, Senin (30/1). REUTERS/Luc Gnago

    Emmanuel Eboue (kiri) dari Pantai Gading menyundul bola saat dikawal 2 pemain Angola pada pertandingan sepakbola Piala Afrika di Malabo, Senin (30/1). REUTERS/Luc Gnago

    TEMPO.CO, Luanda - Sedikitnya 17 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka menyusul aksi dorong antarpenonton berebut masuk stadion untuk menyaksikan pertandingan liga sepak bola angola, Jumat, 10 Februari 2017.

    Menurut laporan televisi pemerintah sebagaimana ditulis CNN, Sabtu, 11 Februari 2017, aksi tersebut terjadi di  Municipal Stadium 4 de Janeiro, di Uige berjarak 300 kilometer sebelah timur Ibu Kota Luanda.

    Laporan televisi TPA menyebutkan, insiden itu bermula ketika fans sepak bola tidak mengindahkan instruksi petugas keamanan dan memaksa masuk stadion melalui satu pintu guna menyaksikan pertandingan antara kesebelasan Santa Rita de Cassia melawan Recreativo do Libolo.

    "Aksi dorong itu mengakibatkan sedikitnya 61 orang cedera, lima di antaranya mengalami luka-luka serius," kata kantor berita Anggora Press mengutip keterangan Direktur Jenderal rumah sakit di Uige.

    Juru bicara kepolisian Orlando Bernardo mengatakan kepada kantor berita AFP, "Ada penyumbatan di pintu masuk stadion sehingga menimbulkan kejadian fatal."

    Bernardo menambahkan, pada insiden tersebut, sejumlah anak-anak turut tewas.

    Pada laga tersebut, CNN melaporkan, berakhir dengan kemenangan Santa Rita de Cassia dengan skor 1-0.

    Presiden Jose Eduardo dos Santos menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga korban dan memerintahkan aparat keamanan melakukan investigasi.

    CNN | ALL AFRICA | CHOIRUL AMINUDDIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.