4 Tulang Belulang Ini Bukti Kekejaman Diktator Paraguay  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota keluarga mendekati peti mati Miguel Angel Soler saat sisa-sisa orang yang hilang selama pemerintahan kediktatoran Alfredo Stroessner dikembalikan di Pusat Kebudayaan Republik, Asuncion, Paraguay, 10 Februari 2017. REUTERS/Jorge Adorno

    Anggota keluarga mendekati peti mati Miguel Angel Soler saat sisa-sisa orang yang hilang selama pemerintahan kediktatoran Alfredo Stroessner dikembalikan di Pusat Kebudayaan Republik, Asuncion, Paraguay, 10 Februari 2017. REUTERS/Jorge Adorno

    TEMPO.CO, Asuncion - Komisi Kebenaran dan Keadilan Paraguay menyerahkan tulang belulang empat korban eksekusi massal diktator militer Paraguay kepada keluarga korban pada Jumat, 10 Februari 2017.

    Penyerahan tulang belulang empat korban kekejaman diktator Alfredo Stroessner itu berlangsung penuh haru. Serpihan tubuh empat korban ini menjadi satu-satunya bukti yang ada terkait dengan eksekusi massal dari 1954 sampai 1989.  

    Selain itu, Komisi memperkirakan ada 19 ribu orang yang disiksa semasa pemerintah Stroessner.

    "Ini pekerjaan yang kami mulai pada masa lalu dan saat yang sama membuka pintu baru perlawanan, karena kita sekarang harus berkukuh bahwa hakim yang memutuskan," kata Rogelio Goiburu, anggota Badan Kenangan Sejarah dan Reparasi Kementerian Kehakiman Paraguay.

    Tulang belulang empat korban eksekusi massal diktator Stroessner berhasil diidentifikasi tahun lalu. Dua tulang belulang diidentifikasi sebagai warga Paraguay bernama Miguel Angel Soler, mantan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Paraguay, dan Castulo Vera Baez, seorang petani. Keduanya menghilang pada 1977.

    Dua tulang belulang lain milik warga negara Italia bernama Rafela Filipazzi dan warga Argentina, Jose Agustin Potenza. Keduanya dinyatakan hilang di Montevideo, Uruguay, pada 1977, tapi ternyata dibunuh di Paraguay.

    Dalam satu perjanjian yang diberi nama Plan Condor, penguasa di Argentina, Cile, Uruguay, Paraguay, Brasil, serta Bolivia saling bertukar informasi tentang orang-orang yang dicari dan diburu untuk dibunuh. Mereka membunuh oposisi eksil pada 1970-an dan 1980-an.

    "Saya sangat bahagia setelah bertahun-tahun menderita sakit dan mencari.... Kami melakukan upaya supaya pelakunya di semua negara diadili," ujar Silvia Potenza, anak perempuan Jose Agustin yang berkunjung ke Argentina dari Italia untuk menghadiri acara penyerahan jasad ayahnya.

    REUTERS | MARIA RITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.