Muslimah Kanada Ini Ditolak Masuk AS Gara-Gara Video di HP

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menaruh lilin dalam aksi aksi dukungan pada komunitas muslim setelah terjadinya penembakan di sebuah masjid Quebec di Moncton, New Brunswick, Kanada, 30 Januari 2017. Penembakan tersebut terjadi saat jemaah masjid melaksanakan salat Isya. (Darren Calabrese/The Canadian Press via AP)

    Warga menaruh lilin dalam aksi aksi dukungan pada komunitas muslim setelah terjadinya penembakan di sebuah masjid Quebec di Moncton, New Brunswick, Kanada, 30 Januari 2017. Penembakan tersebut terjadi saat jemaah masjid melaksanakan salat Isya. (Darren Calabrese/The Canadian Press via AP)

    TEMPO.CO, Jeddah - Seorang perempuan muslim Kanada ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh petugas perbatasan setelah mereka memeriksa handhpone dan mengajukan berbagai pertanyaan soal agama serta pandangannya mengenai Presiden Donald Trump.

    Fadwa Alaouui, perempuan keturunan Maroko-Kanada, dan sepupunya harus menjalani interograsi petugas ketika tiba di perbatasan.

    Selanjutnya, kedua orang ini masuk ke ruang terpisah untuk mendapatkan berbagai pertanyaan yang berakhir dengan penolakan masuk ke AS.

    "Saya merasa terhina, diperlakukan semena-mena. Seolah-olah saya bukan orang Kanada," ucapnya kepada CBC News.

    Alaoui mengatakan, dia dan keluarganya datang ke AS untuk berbelanja di Burlington, Vermont, seperti yang biasa dilakukan oleh warga Quebec dengan membawa kendaraan menuju AS.

    Namun di perbatasan negara, tulis Arab News, dia ditarik keluar dan ditahan oleh petugas bea cukai serta petugas patroli perbatasan.

    Perempuan ini menjelaskan, hampir seluruh pertanyaan yang disampaikan petugas berkisar soal agama yang dianut.

    "Dia bertanya, apakah Anda menjalankan ibadah, ke masjid mana, apa yang Anda dengar di masjid, apakah Imam berbicara langsung dengan Anda?," kata Alaoui.

    Alaoui mengatakan, keluarganya berkali-kali ke AS sebelum ada masalah seperti ini, bahkan orang tua dan saudara laki-lakinya tinggal di sana.

    Selain itu, dia juga dihujani pertanyaan seputar insiden penembakan di masjid Quebec, apakah dia kenal dengan korban atau tidak.

    Alaoui dan sepupunya mengatakan mereka akhirnya ditolak masuk ke AS terkait dengan isi video telepon genggamnya yang bisa dianggap "melawan" AS.

    David Long, juru bicara bea cukai dan perlindungan perbatasan, mengatakan kepada CBC News, lembaganya sama sekali tidak diskriminatif terhadap warga negara asing berdasarkan agama, ras, etnik atau jenis kelamin.

    "Para pelancong yang bersalah bakal ditolak masuk ke AS. Jika mereka keberatan bisa mengajukan keluhan melalui situs lembaga kami," ucapnya.

    Alaoui menuturkan, dia merencanakan menghubungi anggota parlemen dan berharap Perdana Menteri Justin Trudeau untuk membicarakan masalah ini ketika bertemu dengan Presiden AS.

    Rencana Alaoui khawaytir tidak bisa mengunjungi orang tuanya pada musim semi mendatang. "Kami tidak ingin terjadi lagi terhadap kami setelah delapan jam mengendarai mobil," tuturnya.

    ARAB NEWS | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.