Lawatan Ke-7 Negara, Sekjen PBB Awali dengan Turki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen PBB, Antonio Guterres. REUTERS

    Sekjen PBB, Antonio Guterres. REUTERS

    TEMPO.CO, New York—Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres bertolak ke Turki pada Kamis malam waktu setempat, mengawali lawatan ketujuh negara.

    Seperti dilansir AP, Jumat 10 Februari 2017, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan lawatan ini merupakan yang pertama sejak Guterres memimpin PBB pada 1 Januari lalu.

    Baca: Tekad Sekjen PBB Yang Baru, Guterres: 2017 Tahun Damai

    PBB menyatakan Guterres akan membahas sejumlah isu regional dan global.

    Dalam kunjungan ke Istanbul, Guterres akan mendorong percepatan penyelesaian masalah Siprus dalam dialog dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Keduanya juga akan membahas seputar perundingan damai Suriah.

    Ia kemudian bertolak ke Arab Saudi untuk menemui Raja Salman dan sejumlah petinggi Saudi lainnya.

    Dari Riyadh, Guterres akan bertolak ke Dubai sebagai pembicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Dunia 2017 dan bertemu dengan pemerintah Uni Emirat Arab.

    Mantan perdana menteri Portugal itu kemudian dijadwalkan mengunjungi Oman, Qatar dan Mesir untuk melakukan pembicaraan mengenai Suriah, Yaman, Libya dan konflik Israel-Palestina.

    Guterres yang pernah menjabat sebagai kepala bidang pengungsi PBB selama satu dekade mengatakan upaya mengakhiri perang yang berkecamuk selama hampir enam tahun di Suriah merupakan prioritas dari kepemimpinannya yang dimulai pada 1 Januari.

    Dialog tersebut merupakan putaran perdana diplomasi tingkat tinggi Guterres mengenai Suriah dan berbagai konflik lain di Timur Tengah.

    Lawatan Guterres akan diakhiri dengan menghadiri KTT G20 di Bonn dan konferensi keamanan di Munchen, keduanya di Jerman.

    YAHOO NEWS | AP | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.