Mantan Presiden Finlandia Pimpin TPF PBB ke Palestina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB], Koffi Annan hari Senin [22/4] mengumumkan penunjukan mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari sebagai ketua Tim Pencari Fakta (TPF) PBB untuk mencari informasi yang akurat berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat, Palestina. Pembentukan misi pencari fakta ini dimandatkan oleh resolusi Dewan keamanan PBB menyusul dugaan adanya tindakan kejahatan perang digelar tentara Israel di wilayah ini. Dalam menjalankan tugasnya, Martti Ahtisaari, akan dibantu oleh beberapa orang yang cukup dikenal dalam misi-misi PBB, yakni mantan Ketua Urusan Pengungsi PBB, Sadako Ogata dan Presiden Palang Merah Internasional cornelio Sommaruga. Tim ini juga dilengkapi dengan penasehat militer, pensiunan jenderal Amerika Serikat, Bill Nash dan Thomas Peter Fitzgerald of Ireland sebagai penasehat kebijaksanaan. "Tim pencari fakta akan mulai bekerja secepatnya, tanpa ditunda-tunda lagi. Tim ini akan mengadakan pertemuan pertama kalinya di Eropa minggu ini dan akan melakukan perjalanan ke wilayah tujuan secepat mungkin,"ujar Annan dalam konferensi pers di Markas besar PBB. Dalam konperensai pers yang didampingi Martti Ahtisaari itu, Sekjen PBB mengatakan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik Palestina-Israel harus membantu tugas tim pencari fakta. "Saya mengharapkan Pemerintah Israel dan Otoritas Palestina untuk bekerjasama secara penuh dengan tim dan menyediakan akses yang luas ke semua tempat, sumber-sumber informasi dan orang-orang yang diaanggap perlu untuk ditemui dalam rangka menjalankan fungsi tim ini,"tandas Annan. Sementara itu, Martti Ahtisaari menolak untuk berspekulasi tentang kerja tim yang bakal dipimpinnya."Saya tidak berpikir untuk mulai berspekulasi tentang apa yang belum terjadi di sini. Kami, tentu saja, akan mengumpulkan informasi yang diperlukan sebagaimana dikatakan Sejken PBB,"ujarnya. Senada dengan Martti, Annan juga tidak mau berspekulasi tentang kinerja tim yang belum menjalankan tugas ini. Misalnya terhadap pertayaan apa yang akan dilakukan PBB jika memang telah terjadi pembunuhan masal di Jenin, apakah pelakukanya akan dibawa ke pengadilan. "Saya tidak ingin terseret dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita akan mengirim misi pencari fakta dan kita harus menunggu hasilnya,” katanya. Ketika ditanya apakah dia berkonsultasi dengan pemerintah Israel tentang pembentukan ti pencari fakta ini, Annan mengatakan dia memang melakukannya. "Dalam arti bahwa pemerintah Israel memberikan jaminan untuk bekerjasama dengan setiap anggota tim yang dikirm untuk mengetahui apa yang telah terjadi di Jenin dan mereka tidak akan menyembunyikan sesuatu,"tandasnya. Pertanyaan ini muncul berkaitan dengan penentangan Isarel terhadap TPF Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Komisi ini telah memberi mandat kepada ketuanya, Marry Robinson dan tim untuk melakukan penyelidikan ke Jenin. Tapi karena tidak mendapat lampu hijau dari Israel, tim ini urung menjalankan tugasnya sampai sekarang. Berbeda dengan timnya Marry Robinson, TPF yang dipimpin oleh Martti ini lebih kuat taringnya karena diberi mandat DK PBB, satu-satunya organ PBB yang produk keputusannya bersifat mengikat dan lagi pula didalamnya ada sekutu berat Israel, Amerika Serikat. Tapi skeptisme tak juga lenyap. Soalnya, selama bulan April ini DK PBB telah memproduksi 4 resolusi dan Israel selalu punya nyali untuk mencuekinya (Supriyono/New York)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.