Dibui Israel, Perempuan Palestina Ini Mogok Makan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memandu seorang perempuan Palestina dalam sesi pelatihan menembak untuk keluarga pejabat Hamas, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 24 Juli 2016. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    Petugas memandu seorang perempuan Palestina dalam sesi pelatihan menembak untuk keluarga pejabat Hamas, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 24 Juli 2016. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    TEMPO.CO, Gaza - Perempuan Palestina, Randa Al-Shahateet, mogok makan di dalam penjara setelah dia ditangkap dan dibui oleh tentara Israel di daerah pendudukan. "Al-Shahatee melakukan aksinya di daerah pendudukan Tepi Barat, Hebron," Quds Press melaporkan Senin, 23 Januari 2017.

    Menurut suami Al-Shahatee, Yousef Abu Sabha, otoritas Israel di daerah pendudukan menahan istrinya pada Jumat dinihari waktu setempat, 20 Januari 2017, di pos penjagaan militer di selatan Hebron.

    Baca juga:
    Di Akhir Jabatan, Obama Teken Dana Rp 2,9 T untuk Palestina
    Israel Yakin Amerika Pindahkan Kedutaannya ke Yerusalem

    "Dinas intelijen Israel mengintrograsinya dan membawanya ke penjara HaSharon malam itu juga," ucapnya. Dia menambahkan, dia ditahan karena dianggap melanggar ketentuan pembebasan bersyarat pada Agustus 2016, termasuk statusnya sebagai tahanan rumah dan tidak bayar denda.

    Middle East Monitor dalam laporannya, Selasa, 24 Januari 2017, mengatakan, mogok makan itu dilakukan lantaran pengadilan menolak permintaan Shahateet agar dia dipindahkan ke tahanan perempuan di HaSharon.

    Kelompok hak asasi mengtakan, sebanyak 50 tahanan perempuan Palestina saat ini mendekam dalam terali besi Israel termasuk 38 orang di HaSharon, 13 orang di antaranya gadis belia.

    DDLE EAST MONITOR | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.