Polisi Finlandia Tangkap 136 Demonstran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Helsinki:Sebanyak 136 pengunjuk rasa ditahan polisi Finlandia menjelang pembukaan Pertemuan Puncak ASEAN-Uni Eropa (ASEM) ke-6 di Helsinki, Finlandia, Ahad petang lalu. Sebagian besar pendemo dari berbagai negara yang mengaku sebagai aktivis gerakan antiglobalisasi itu kemudian dilepas pada malam harinya.Hanya sekitar 20 orang yang masih ditahan. Tindakan itu dilakukan polisi dengan alasan mencegah tindakan kekerasan kaum anarkis. Sementara itu, para pendemo damai, seperti para pendukung Aung San Su Kyi dan Fa Lun Gong, dibiarkan melakukan aksi mereka, yang menyebabkan beberapa jalur lalu lintas terkena macet.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama rombongan termasuk yang mendapat tontonan gratis aksi para pendemo Fa Lun Gong di sekitar hotel tempat delegasi RI menginap, Hotel Kamp.Pihak polisi merasa perlu bertindak waspada karena pembukaan ASEM ke-6 dihadiri pemimpin puncak 39 negara dan Presiden Komisi Eropa serta berlangsung menjelang perayaan lima tahun serangan 11 September 2001 di New York.Dalam pertemuan di Helsinki, para delegasi ASEM ke-6 antara lain menyepakati pembentukan sekretariat virtual, yang akan menghubungkan kantor sekretariat Uni Eropa di Brussel dan Sekretariat ASEAN di Jakarta. Kantor virtual ini dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja ASEM agar tidak semata menjadi forum dialog, tapi juga menghasilkan kerja yang lebih konkret.Salah satu program yang akan segera menyibukkan kantor dunia maya ini adalah kesepakatan ASEM untuk menanggulangi masalah pemanasan bumi (global climate changes). Pemanasan bumi akibat polusi udara dikhawatirkan akan menyebabkan es di kutub mencair, menaikkan tinggi permukaan laut, dan menenggelamkan banyak wilayah dengan ratusan juta penduduk di seluruh pesisir dunia.BHM

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.