Duterte Perintahkan Militer Mengebom Abu Sayyaf dan Sandera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Norwegia, Kjartan Sekkingstad (tengah) berdiri di samping pimpinan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) Nur Misuari setelah dibebaskan dari kelompok militan Abu Sayyaf Islam al-Qaeda, di Jolo, Sulu di Filipina, 18 September 2016. Warga Norwegia Kjartan Sekkingstad dan tiga orang ABK Indonesia, diserahkan kepada utusan pemerintah Filipina di kota Indanan, Pulau Jojo. REUTERS/Nickie Butlangan

    Warga Norwegia, Kjartan Sekkingstad (tengah) berdiri di samping pimpinan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) Nur Misuari setelah dibebaskan dari kelompok militan Abu Sayyaf Islam al-Qaeda, di Jolo, Sulu di Filipina, 18 September 2016. Warga Norwegia Kjartan Sekkingstad dan tiga orang ABK Indonesia, diserahkan kepada utusan pemerintah Filipina di kota Indanan, Pulau Jojo. REUTERS/Nickie Butlangan

    TEMPO.CO, Manila — Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan militer untuk mengebom ekstremis yang kerap merisaukan dengan aksi penculikan bersama dengan tawanan mereka. Hal itu dilakukan untuk menghentikan gelombang penculikan di laut.

    Seperti dilansir Independent pada Minggu, 15 Januari 201, Duterte mengatakan ia telah memberikan perintah kepada angkatan laut dan penjaga pantai bahwa jika menemukan penculik dan mereka berusaha untuk melarikan diri, bom mereka semua.

    Baca juga:

    Duterte Mengaku Pernah Membunuh Tersangka Kriminal
    Upaya Indonesia, Malaysia, dan Filipina Hadapi Penculik WNI


    "Jika mereka mengatakan ada sandera, ‘maaf, kami harus menghancurkan semuanya’," kata dia kepada pengusaha di Davao pada Sabtu lalu.

    Duterte menegaskan langkah ini akan memberantas militan yang kerap melakukan penculikan untuk mendapatkan tebusan.

    “Kebijakan garis keras ini akan membuat penculik berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan.”

    Dengan bercanda, Duterte memberi saran kepada calon korban penculikan yang terpaksa harus dibom bersama penculik, “Jangan biarkan dirimu diculik.”

    Pernyataan Duterte mencerminkan keputusasaan Filipina. Meski telah bekerja sama dengan Malaysia dan Indonesia untuk menghentikan serangkaian penculikan terutama oleh militan Abu Sayyaf, tetapi upaya ini belum mampu menumpas para bandit tersebut.

    Sabtu lalu, Abu Sayyaf membebaskan seorang kapten Korea Selatan dan awaknya yang berasal dari Filipina. Keduanya diculik tiga bulan lalu dari kapal kargo mereka.

    Mereka diserahkan kepada kelompok pemberontak Front Pembebasan Nasional Moro, yang kemudian membawanya ke pejabat Filipina di kota Jolo selatan di provinsi Sulu.

    Pemberontak Moro, yang menandatangani kesepakatan 1996 damai dengan pemerintah, selama ini kerap membantu pembebasan beberapa sandera dengan Abu Sayyaf, termasuk dari Indonesia.

    Hingga kini sedikitnya masih terdapat 27 sandera, yang kebanyakan warga asing yang masih berada di tangan Abu Sayyaf.

    Selama bertahun-tahun, Abus Sayaaf yang telah berjanji setia kepada ISIS memanfaatkan penculikan untuk mendapatkan dana selain pemerasan dan tindakan-tindakan brutal lainnya.

    Laporan baru-baru ini mengatakan bahwa militan itu telah mengantongi setidaknya 353 juta peso  atau Rp 97,2 miliar dari hasil pembayaran uang tebusan korban penculikannya dalam enam bulan pertama tahun 2016.

    Para militan kerap menargetkan kapal tunda yang bergerak lambat di laut sibuk yang berbatasan dengan Filipina selatan, Malaysia dan Indonesia.

    RAPPLER | INDEPENDENT | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.