Ribuan Pengungsi Antre Makanan di Suhu Minus 20 Derajat Celsius

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto kanan, para imigran saat menganteri makanan gratis di Serbia dan suasana tahanan pada Perang Dunia 2. REUTERS,  Corbis Historical

    Foto kanan, para imigran saat menganteri makanan gratis di Serbia dan suasana tahanan pada Perang Dunia 2. REUTERS, Corbis Historical

    TEMPO.CO, Beograd – Hanya menggunakan selimut dan topi wol, ratusan pengungsi antre untuk memperoleh makanan dalam hujan salju di Serbia.

    Seperti dilansir The Mirror, Selasa, 10 Januari 2017, sekitar 1.500 pengungsi pria dari Asia dan Timur Tengah kini tinggal di sebuah gudang yang tak digunakan di Ibu Kota Beograd agar terhindari dari musim dingin.

    Suhu pada Senin malam waktu setempat mencapai minus 20 derajat Celsius di wilayah itu.

    Ratusan pria, sebagian besar berasal dari Afganistan, Suriah, dan Irak, tidur di lantai beton dengan hanya beralas tikar plastik.

    Gambaran ini mengingatkan publik akan insiden serupa pada masa Perang Dunia II. Saat itu, tahanan perang Jerman antre dalam dinginnya suhu udara di Stalingrad, Rusia.

    Para pria ini terpaksa mengalah dengan tinggal di tempat-tempat yang diabaikan di Beograd dan sekitarnya, karena tempat pengungsian kini dipenuhi oleh perempuan dan anak-anak.

    Mereka adalah bagian dari 7.000 pengungsi yang kini terdampar di Serbia.

    Amin Jahn, salah seorang pengungsi asal Pakistan, mengaku mereka tak bisa tidur karena suhu dingin yang sangat menggigit. “Kami hanya bisa duduk mengelilingi api.”

    Jahn memohon Serbia segera membuka perbatasan agar penderitaan mereka segera berakhir. Sejumlah pengungsi, termasuk anak-anak, bahkan berkemah di perbatasan utara Serbia agar mereka dapat masuk ke Hungaria.

    Hungaria menerima permintaan suaka dari 30 ribu pengungsi pada tahun lalu. Namun pemerintah hanya menerima kurang dari separuhnya. Sedangkan 20 ribu pengungsi berusaha memasuki Hungaria secara ilegal.

    Pengungsi hanya dapat mengajukan permohonan suaka dari dua pintu perbatasan, Horgos dan Tompa. Tapi jumlah yang diterima hanya sedikit. Setiap hari, Hungaria hanya menerima 10 pengungsi yang boleh masuk ke wilayahnya.

    Dalam dinginnya musim salju kali ini, penantian itu membuat banyak pengungsi, terutama anak-anak, sangat menderita.

    “Mereka telah menderita terlalu banyak, salah satunya mengalami penyakit infeksi pernapasan,” ujar Milana Radosavljevic, tim medis Dokter Lintas Batas, kepada Reuters.

    Pemimpin Hungaria, Perdana Menteri Viktor Orban, memastikan tidak akan menerima pengungsi. Untuk membuktikan pernyataannya, politikus sayap kanan itu membangun tembok dengan kawat berduri yang dijaga ribuan polisi dan tentara.

    THE MIRROR | REUTERS | SITA PLANASARI AQUADINI

    Baca juga:
    Latih Bela Negara FPI, Dandim Lebak Dicopot



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.