Usai Ledakkan Berlin, Anis Amri Rehat di Stasiun KA Brussel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto warga Tunisia Anis Amri yang dicari oleh polisi Jerman untuk keterlibatan dugaan dalam serangan pasar Berlin Natal. Ia diduga tewas Jumat pagi 23 Desember 2016 dalam baku tembak dengan polisi di Milan, Italia. AP

    Foto warga Tunisia Anis Amri yang dicari oleh polisi Jerman untuk keterlibatan dugaan dalam serangan pasar Berlin Natal. Ia diduga tewas Jumat pagi 23 Desember 2016 dalam baku tembak dengan polisi di Milan, Italia. AP

    TEMPO.CO, Berlin - Rekaman kamera CCTV menunjukkan pelaku serangan Berlin, Anis Amri, tiba dari Amsterdam dan menghabiskan waktunya sekitar dua jam di stasiun kereta api Brussel, dua hari setelah menyerang Berlin.

    Pihak berwenang Belanda, dalam keterangannya kepada media, mengatakan Amri melakukan perjalanan dengan kereta api di Nijmege sekitar pukul 11.30 pagi waktu setempat pada 21 Desember 2016, sebelum dia menuju stasiun kereta api di Amsterdam pukul 13.00 siang.

    "Dia terlihat dalam rekaman kamera CCTV di Brussel antara pukul 19.00 hingga 21.00," ujar petugas keamanan Belgia.

    Mengenai rekaman CCTV, telah dikonfirmasi bahwa Amri mengunjungi Belanda, Belgia, Prancis, dan Italia setelah dia diduga keras terlibat langsung dalam pembunuhan di sebuah pasar padat pengunjung di Jerman.

    "Serangan mematikan di Berlin itu menimbulkan pertanyaan atas keamanan di Uni Eropa," tulis Al Arabiya, Rabu, 4 Januari 2017.

    Amri memasuki wilayah Jerman pada 2015 dan mengajukan permohonan menjadi warga negara. Namun, pada Juni 2016, permohonannya ditolak pengadilan sekaligus meminta dia meninggalkan Jerman.

    Pria 21 tahun itu terlibat penyerangan dengan sebuah truk yang ditabrakkan ke kerumunan orang yang berada di sebuah pasar di Berlin. Akibat ulahnya, 12 orang tewas serta beberapa korban lainnya luka-luka.

    AL ARABIYA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.