ICG: Jaringan Rohingya di Pakistan Dalangi Rusuh 9 Oktober

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita muslim Rohingya bersama anaknya menangis saat ditangkap oleh petugas perbatasan Bangladesh (BGB) setelah melintas perbatasan secara ilegal di Cox's Bazar, Bangladesh, 21 November 2016. Warga Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh karena kekerasan yang diterimnya di Myanmar. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    Seorang wanita muslim Rohingya bersama anaknya menangis saat ditangkap oleh petugas perbatasan Bangladesh (BGB) setelah melintas perbatasan secara ilegal di Cox's Bazar, Bangladesh, 21 November 2016. Warga Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh karena kekerasan yang diterimnya di Myanmar. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    TEMPO.CO, Yangon- Kelompok penggiat HAM internasional, International Crisis Group (ICG) mengungkapkan tentang sekelompok Muslim Rohingya yang menyerang penjaga perbatasan Myanmar pada Oktober lalu dikoordinir oleh orang-orang yang memiliki jaringan ke Arab Saudi dan Pakistan.

    Serangan terkoordinasi pada 9 Oktober itu, menewaskan sembilan polisi, dan memicu tindakan keras oleh pasukan keamanan di negara bagian Rakhine. Setidaknya 86 orang tewas, menurut media pemerintah, dan PBB memperkirakan 27.000 anggota minoritas Rohingya telah melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

    Baca:
    Gerakan Separatis California Dirikan Kedutaan di Rusia
    Facebook Akan Beri Tanda Khusus untuk Berita Hoak

    Dalam laporannya, ICG menayangkan video yang menyebutkan bahwa sebuah kelompok yang menamakan dirinya Harakah al-Yakin (HaY) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. ICG yang berbasis di Brussels, Berlgia, juga mengatakan telah mewawancarai empat anggota kelompok itu di negara bagian Rakhine dan dua di luar Myanmar.

    Harakah al-Yakin, atau Gerakan Keyakinan dibentuk setelah kekerasan komunal pada 2012 yang  menewaskanlebih dari 100 orang  dan sekitar 140.000 mengungsi dari negara bagian Rakhine, kebanyakan dari mereka Rohingya.

    Kelompok itu yang juga memiliki basis di Pakistan serta Afghanistan memberi pelatihan senjata  kepada penduduk desa di Rakhine utara lebih dari dua tahun menjelang serangan.

    "Ini termasuk penggunaan senjata, taktik gerilya dan pelatihan juga fokus pada bahan peledak dan IED," kata ICG, mengacu pada perangkat peledak improvisasi.

    ICG juga mengungkapkan bahwa pemimpin Harakah al-Yakin diidentifikasi sebagai Ata Ullah, lahir di Karachi, Pakistan, anak dari pengungsi Rohingya yang hijrah ke Mekkah, Arab Saudi.

    Namun, ICG mengatakan kelompok ini tidak terlibat dalam serangan terhadap penduduk Budha di Rakhine. Dan pernyataan Harakah al-Yakin untuk saat ini menunjukkan tujuan utamanya adalah untuk mengakhiri penganiayaan terhadap Rohingya di Myanmar dan mengamankan status kewarganegaraan minoritas.
    REUTERS|SOUTH CHINA MORNING POST|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.