867 Kasus Kebencian Agama Terjadi Sejak Trump Menang Pilpres

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak melihat pesan tertulis di post-it notes yang berisikan tentang pemilihan Presiden terpilih Donald Trump di New York, AS, 15 November 2016. Catatan kecil ini merupakan bentuk protes warga Amerika setelah terpilihanya Trump sebagai Presiden. REUTERS/Lucas Jackson

    Seorang anak melihat pesan tertulis di post-it notes yang berisikan tentang pemilihan Presiden terpilih Donald Trump di New York, AS, 15 November 2016. Catatan kecil ini merupakan bentuk protes warga Amerika setelah terpilihanya Trump sebagai Presiden. REUTERS/Lucas Jackson

    TEMPO.CO, New York - Sebanyak 867 kasus bermotif kebencian dan diskriminasi agama dicatat di Amerika Serikat (AS) hanya dalam kurun waktu 10 hari sejak Donald Trump memenangkan pemilihan Presiden pada 8 November lalu.

    Menurut organisasi yang memantau kejahatan tersebut, Southern Poverty Law Center (SPLC), kebanyakan penyerang berani melakukan perbuatan tersebut sebagai tindaklanjut atas kemenangan Trump dalam pemilihan presiden. Trump selama kampanye  banyak mengeluarkan pernyataan kontroversial yang membuat masyarakat Islam dan imigran sebagai sasaran.

    Baca:
    DK PBB Larang Korea Utara Ekspor Batubara ke Cina
    Kelompok Bersenjata Serang Konvoi Presiden Duterte
    Kuba Berkabung, Dilarang Jual Minuman Beralkohol 9 Hari

    Presiden SPLC, Richard Cohen menjelaskan,  penyerang juga mengutip nama Trump saat melakukan aksinya, sehingga memperlihatkan pertambahan jumlah kasus tersebut terjadi karena kemenangannya.

    "Jumlah kasus yang banyak ini sangat mengkhawatirkan," ungkap Cohen, seperti  dilansir Press TV pada 30 November 2016.

    Cohen menambahkan, kebanyakan korban yang diserang juga tidak pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya. "Korban juga mengatakan, kejahatan kebencian yang dihadapi mereka semakin meningkat, tidak seperti sebelumnya," katanya.

    Lebih lanjut Cohen menjelaskan, mayoritas dari insiden itu melibatkan coretan grafiti atau kekerasan verbal, namun hanya sedikit pertengkaran melibatkan serangan fisik yang dilaporkan.

    Jumlah kasus tertinggi dilaporkan di California dengan 99 kasus.

    Zeinab Arain dari kelompok Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengatakan bahwa dari tanggal 9 hingga 18 November terdapat 111 insiden anti-Muslim.

    "Banyak dari mereka yang terlibat adalah wanita berjilbab, di mana jilbab mereka ditarik paksa, anak-anak muslim diejek di sekolahnya, dan beberapa serangan fisik," katanya.

    Trump sendiri menolak bertanggung jawab atas kekerasan itu dan dalam sebuah wawancara meminta agar pera pelaku menghentikan aksi kejinya. Dalam wawancara November 23 dengan The New York Times, Trump mengaku ia tidak tahu mengapa supremasi kulit putih begitu terpengaruh oleh kampanyenya.

    AL JAZEERA | PRESS TV | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.