Kongres Kolombia Setuju Berdamai dengan Pemberontak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Kolombia Juan Manuel Santos (kiri) bersalaman dengan pemimpin Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) Rodrigo Londono alias Timochenko dalam penandatanganan kesepakatan damai di Cartagena, Kolombia, 26 September 2016. Kesepakatan damai menjadi tanda berakhirnya 52 tahun konflik di Kolombia. REUTERS

    Presiden Kolombia Juan Manuel Santos (kiri) bersalaman dengan pemimpin Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) Rodrigo Londono alias Timochenko dalam penandatanganan kesepakatan damai di Cartagena, Kolombia, 26 September 2016. Kesepakatan damai menjadi tanda berakhirnya 52 tahun konflik di Kolombia. REUTERS

    TEMPO.CO, Bogota – Kongres Kolombia dengan suara bulat menyetujui perjanjian damai dengan gerilyawan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) untuk mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama lebih dari setengah abad.

    Kesepakatan itu disetujui di majelis rendah oleh 130 anggotanya pada Rabu, 30 November 2016, sehari setelah seluruh anggota Senat koalisi pemerintah, yang berjumlah 75 orang, meratifikasi. Partai oposisi menolak meratifikasi dengan melakukan aksi walk-out.

    Presiden Kolombia Juan Manuel Santos mengatakan suara yang diperoleh menunjukkan tanda dukungan ke arah perdamaian yang dia usahakan selama ini. “Saya ingin kesepakatan itu dilaksanakan secepat mungkin,” ujar Presiden Santos, yang memenangi Hadiah Nobel pada Oktober 2016 untuk upaya perdamaian di Kolombia.

    Persetujuan oleh Kongres tersebut dibuat setelah penandatanganan kesepakatan yang direvisi antara Presiden Santos dan pemimpin pemberontak Rodrigo Londono di Havana pekan lalu. Kesepakatan itu mewajibkan sekitar 7.000 anggota FARC menyerahkan senjata dan mulai membentuk partai politik.

    Perjanjian baru yang direvisi itu bertujuan mengakhiri pemberontakan terlama di Amerika Latin. Perjanjian sebelumnya, yang memungkinkan para pemberontak memegang jabatan publik dan tidak dipenjara, kalah dalam referendum pada 2 Oktober 2016.

    Pemerintah dan FARC bekerja sama di Kuba selama empat tahun untuk bernegosiasi mengakhiri konflik terlama di kawasan itu yang telah menewaskan lebih dari 220 ribu penduduk dan jutaan pengungsi.

    CHANNEL NEWS ASIA | YON DEMA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.