Cerita Pria yang 'Dipenjara' dan Diganjar Rp 8,1 Miliar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. azpenalreform.a

    Ilustrasi. azpenalreform.a

    TEMPO.CO, Illinois - Seorang pria yang secara tidak sengaja 'dipenjara' lebih dari 32 jam di Amerika Serikat, diberi ganti rugi US$ 600 ribu atau Rp 8,1 miliar. Laporan Chicago Tribune mengatakan, Farad Polk terkunci dalam kamar pengunjung di penjara keamanan maksimum, Cook County Jail, pada Juli 2014.

    Saat kejadian, dia sedang mengunjungi anaknya di penjara. Oleh pihak penjara dia diarahkan untuk memasuki kamar tersebut. Tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup dan terkunci. Polk segera menyadari bahwa tidak ada cara untuk keluar. Tidak ada yang mendengar teriakan Polk untuk meminta bantuan.

    Simak Pula
    Chef Aiko Terpaksa Lakukan Ini untuk Sembunyikan Malu
    DNA Cocok: Kiswinar Tolak Temui Mario Teguh, Curiga Dijebak?

    Ruang kecil, tempat Polk terkunci, tidak terdapat toilet serta tempat tidur. Tidak ada makanan atau air. Selama 32 jam, Polk  terpaksa tidur dan buang air di lantai. Saat berusaha membuka grendel pintu, tangannya terluka. Polk akhirnya diselamatkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran Chicago.

    Pol menggugat pihak penjara karena mengalami trauma. Pengacara Polk, Cannon Lambert, mengatakan kliennya bisa mendengar suara penjaga di sisi lain dinding, tapi tidak ada yang datang menyelamatkannya.

    "Ketika pemadam kebakaran tiba, ia diborgol dan diinterogasi layaknya penjahat. Hal  itu semakin membuatnya trauma," kata Lambert seperti dilansir media, 30 November 2016. Juru bicara Cook County Sheriff Department, Sophia Ansari, mengakui hal tersebut.  Pihaknya bersyukur karena Polk berhasil selamat.

    DAILY MAIL | CHICAGO TRIBUNE | YON DEMA

    Baca Juga
    Terungkap, Aset Syahrini Rp 280 M, Bikin Netizen Penasaran
    Baru, Pengakuan Ahok Soal Penistaan Al-Maidah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.