3 Wanita Diarak Keliling Kota dan Dipermalukan, Ini Sebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pencuri tertangkap. Shutterstock

    Ilustrasi pencuri tertangkap. Shutterstock

    TEMPO.CO, Meksiko City - Tiga perempuan dipaksa berjalan mengelilingi pusat kota dalam keadaan telanjang setelah dituduh mencuri. Peristiwa itu terjadi di Huatabampo, kota di bagian barat laut Meksiko, pada malam hari.

    Beberapa gambar kejadian itu kemudian tersebar di media sosial. Dari gambar itu, terlihat tiga perempuan tersebut hanya mengenakan kaus kaki. Mereka tampak menutupi payudara dan alat kelaminnya dengan tangan.

    Berdasarkan keterangan saksi di tempat kejadian, tiga perempuan itu dikawal orang yang mengendarai sepeda motor. Gambar itu diambil orang yang lewat. Menurut portal berita online, ketiga perempuan dihukum berjalan telanjang karena diduga mencuri oleh massa yang main hakim sendiri.

    Pemerintah setempat menyatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan. Namun mereka menghadapi kesulitan karena tidak banyak informasi yang diperoleh dari kejadian itu.

    Wali Kota Heliodoro Soto mengatakan, "Laporan awal yang kami peroleh, perempuan muda itu terlibat dalam kerja maksiat dan mencuri barang beberapa orang yang juga terlibat dalam kegiatan maksiat."

    "Kami tidak menerima keluhan tentang kejadian itu. Perempuan itu memilih diam. Kami juga mengerti mereka malu. Namun kami masih berusaha mencari cara dan menyeret mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan," ujar Soto.

    Hingga kini, ketiganya dan mereka yang terlibat dalam aksi main hakim sendiri itu masih belum diidentifikasi. Waktu kejadian juga belum dapat dikonfirmasi karena masih menunggu penyelidikan lebih lanjut.

    THE SUN | MIRROR| YON DEMA

    Baca juga:
    Pembelaan Ahmad Dhani Soal Nama Hewan & Tuduhan Hina Jokowi  
    Hormati Castro, Palestina Kibarkan Bendera Setengah Tiang

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.