Fidel Castro Wafat, Ini Beda Komentar Trump dan Obama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Kiba, Fidel Castro saat menyampaikan sambutannya di markas PBB di New York, 12 Oktober 1979. Fidel Castro akan merayakan ulang tahunnya ke-90 pada 13 Agustus. AP/Marty Lederhandler, File

    Presiden Kiba, Fidel Castro saat menyampaikan sambutannya di markas PBB di New York, 12 Oktober 1979. Fidel Castro akan merayakan ulang tahunnya ke-90 pada 13 Agustus. AP/Marty Lederhandler, File

    TEMPO.CO, Jakarta - Tokoh revolusi Kuba, Fidel Castro, meninggal pada usia 90 tahun, Sabtu, 26 November 2016. Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan presiden terpilih Donald Trump memiliki komentar yang berbeda tentang kematian Fidel Castro.

    Dalam akun Twitter-nya, Donald Trump hanya menulis sebaris kalimat singkat, "Fidel Castro is dead!” Sedangkan dalam pernyataan resmi yang dikutip AP News, Trump menyebut mantan pemimpin Kuba itu sebagai seorang diktator brutal yang menindas rakyatnya sendiri selama hampir enam dekade. “Castro meninggalkan warisan kasus penembakan, pencurian, tak terbayangkan penderitaan, kemiskinan, dan penolakan hak asasi manusia.”

    Trump berharap kematian Castro menandai perubahan di Kuba. Penduduk di negara itu akhirnya bisa merasakan kebebasan dan menentukan masa depannya sendiri. Trump mengatakan pemerintahannya akan melakukan apa saja untuk memastikan rakyat Kuba bisa memulai perjalanan mereka menuju kemakmuran dan kebebasan.

    Presiden Barack Obama mengatakan Amerika siap mengulurkan tangan persahabatan kepada bangsa Kuba setelah kematian Fidel Castro. Menurut Obama, dalam beberapa hari mendatang masyarakat Kuba bakal mengingat masa lalu sekaligus melihat ke masa depan. “Seperti yang mereka lakukan, orang-orang Kuba harus tahu bahwa mereka memiliki teman dan mitra di Amerika.”

    Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan Fidel Castro bermain di kehidupan orang-orang Kuba. Castro mempengaruhi arah bahkan urusan global regional. Namun Kerry juga melihat ke masa depan, tidak kembali pada masa lalu. “Kita melakukannya dalam semangat persahabatan dan dengan sungguh-sungguh keinginan untuk tidak mengabaikan sejarah tetapi untuk menulis masa depan yang baru dan lebih baik untuk dua bangsa kami,” katanya.

    Dia mengatakan Amerika berkomitmen untuk memperdalam keterlibatan Amerika dengan orang-orang Kuba sekarang dan pada tahun-tahun mendatang.

    Castro yang merupakan pemimpin revolusi komunis di Kuba, telah memimpin Kuba sebagai negara dengan partai tunggal selama lebih dari setengah abad. Ia kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada sang adik Raul Castro pada 2008.

    AP NEWS | REZKI A. | EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.