Peneliti: Trump Mengejar Hegemoni di Laut Cina Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor berita Xinhua merilis foto pesawat pembom H-6K terbang di atas Laut Cina Selatan yang diklaim masuk wilayah kekuasaan Tiongkok, 18 Juli 2016. Foto ini dirilis sehari setelah Pengadilan Abritrase Internasional memutuskan bahwa klaim Tiongkok atas Laut Cina Selatan tidak berdasar. Liu Rui/Xinhua via AP

    Kantor berita Xinhua merilis foto pesawat pembom H-6K terbang di atas Laut Cina Selatan yang diklaim masuk wilayah kekuasaan Tiongkok, 18 Juli 2016. Foto ini dirilis sehari setelah Pengadilan Abritrase Internasional memutuskan bahwa klaim Tiongkok atas Laut Cina Selatan tidak berdasar. Liu Rui/Xinhua via AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump diprediksi tidak akan menarik diri dari kawasan Laut Cina Selatan. Kepala Institut Nasional untuk Studi Laut Cina Selatan Studi, Wu Shicun, mengatakan AS akan terus mengejar hegemoni regional di kawasan regional tersebut.

    Wu memastikan kontrol mutlak AS atas Laut Cina Selatan adalah inti dari strategi militer AS di Asia-Pasifik. "Tidak akan ada perubahan kebijakan AS di Laut Cina Selatan," kata Wu Shicun dalam laporan publik mengenai kehadiran militer AS di kawasan, seperti dilansir Reuters, Jumat, 25 November 2016.

    Wu mengatakan komitmen AS dan sekutunya tidak akan berubah untuk melindungi kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan. Ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat di Laut Cina Selatan, kata Wu, akan menjadi kunci perkembangan militer Cina.

    Sebuah patroli kapal perang AS pada bulan Oktober lalu dianggap berlayar secara ilegal dan provokatif oleh Departemen Pertahanan Cina. Upaya AS ini dianggap Cina membatasi kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan dan memicu kemarahan Beijing dan meningkatkan kekhawatiran konflik militer.

    "Dari perspektif AS, kegiatan konstruksi skala besar di Laut Cina Selatan menegaskan kecurigaan AS bahwa Cina bermaksud menerapkan strategi anti-akses atau penolakan," kata dia.

    Direktur Laut Cina Selatan Center, Zhu Feng, dari Nanjing University, mengatakan kebijakan militer Trump di Asia-Pasifik akan ada perubahan yang signifikan. Dia menambahkan Trump tidak mungkin menggunakan istilah "rebalancing" ke wilayah ini. Menurut dia, Trump kemungkinan akan mempertahankan sebagian besar kebijakan.

    Baik Wu maupun Zhu bersepakat ada kemungkinan besar AS meningkatkan belanja militer di Asia-Pasifik di bawah kepemimpinan Trump. Zhu mengatakan pemerintah AS akan meningkatkan pengeluaran militer ketika mengambil alih kekuasaan.

    Pembangunan kekuatan militer di kawasan itu telah menyebabkan kekhawatiran meningkatnya risiko konflik. Zhu mengatakan keputusan untuk merilis laporan bukan berarti Cina bersiap untuk perang, melainkan untuk menghindari perlombaan senjata antara Cina dan Amerika Serikat.

    ARKHELAUS W. | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.