Guenter Grass Pernah Menjadi Serdadu Nazi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Berlin: Pengakuan itu menggemparkan dunia sastra dan politik Jerman. Guenter Grass, pemenang Nobel Sastra 2000, yang dikenal sebagai pejuang demokrasi dan perdamaian itu, mengaku pernah menjadi anggota SS Nazi.Dalam sebuah wawancara di harian terhormat Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, edisi 11 Agustus, Grass untuk pertama kalinya mengungkap peran kelamnya itu. Wawancara ini terkait dengan rencana penerbitan otobiografinya, Mengupas Bawang (Günter Grass: Beim Häuten der Zwiebel)."Kebisuanku selama bertahun-tahun ini adalah satu alasan mengapa aku menulis buku ini," kata pengarang berusia 78 tahun itu. "Ia harus keluar akhirnya."Pengarang kelahiran Danzig, Jerman (kini Gdansk, Polandia) pada 16 Oktober 1927 itu mengakui bahwa keterlibatannya dalam Nazi karena keterpukauannya pada ideologi Hitler itu. "Aku terpukau dalam ideologi itu, aku dibutakannya," kata dia. "Aku ingin menjadi seorang pahlawan dan mungkin memainkan beberapa peranan."Grass juga mengakui bahwa pengungkapan rahasianya ini sudah sangat terlambat. Tapi dia percaya bahwa dia telah memanfaatkan pengalaman hidupnya sejak masa perang untuk terus mencela masa lalu Nazi.Pengakuan Grass ini menuai reaksi keras dari berbagai kalangan. Dewan Kota Gdansk, Polandia, menimbang akan mencabut warga negara kehormatan kota yang pernah disematkan kepada Grass. Tapi, Grass menolaknya, karena, "Aku tak melihat alasan untuk melepas penghargaan ini," katanya.Organisasi pengarang PEN Cek juga menimbang untuk menarik penghargaan Hadiah Karel Capek yang diserahkan kepada Grass pada 1994.Tapi, pendukung Grass juga banyak. Meski banyak pihak meminta Yayasan Nobel mencabut Nobelnya, ketua yayasan itu menolaknya dan mengatakan bahwa keputusan itu tak dapat ditarik kembali.Pengarang Salman Rushdie juga membela Grass, sahabat dan rekan seprofesinya itu. Dia menilai Grass tidaklah munafik. "Kita tidak membaca karya Ezra Pound, seorang simpatisan Nazi sebagai sebuah kedewasaan," katanya. Ezra Pound adalah penyair Amerika yang anti-Semit dan terpukau pada fasisme Mussolini.John Irving, pengarang Amerika, juga berdiri di barisan pembela. "Grass tetap seorang pahlawan bagiku, baik sebagai pengarang maupun sebagai kompas moral; ketabahannya sebagai pengarang dan warga Jerman patut dicontoh, ketabahan yang dipertinggi, bukannya dikurangi, dengan pengakuannya baru-baru ini," ujar penulis novel The Cider House Rules itu.THE SUNDAY TIMES | BBC | AP | AFP | IWANK

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.