Nostalgia Ban-ki Moon di Unesco  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perpisahan Sekjen PBB Ban Ki Moon di markas Unesco di Paris, Jumat 18 November 2016. Ban didampingi oleh  Dirjen Unesco Irina Bokova

    Perpisahan Sekjen PBB Ban Ki Moon di markas Unesco di Paris, Jumat 18 November 2016. Ban didampingi oleh Dirjen Unesco Irina Bokova

    TEMPO.CO, Paris - Dengan mata berkaca-kaca Ban-ki Moon menerima buku tua di markas Unesco di Paris. "Ini untuk mengingatkan Anda pada Unesco," kata Dirjen Unesco Irina Bokova.

    Sekjen PBB yang akan segera menggakhiri masa jabatannya itu pun memamerkan buku itu bagi para hadirin yang mengerubunginya untuk mengucapkan selamat berpisah. "Saya sebentar lagi akan meninggalkan PBB, tapi Unesco akan selalu berada di hati saya. Selama hidup saya," katanya.

    Unesco memang punya kesan khusus bagi Ban-ki Moon. "Ketika saya kembali sekolah setelah perang berakhir," katanya, "kami bisa sekolah karena Unesco menyediakan buku pelajaran kami."

    Menjadi bintang pelajar di sekolahnya, Ban-ki Moon memenangkan lomba esai dan mendapat hadiah berkunjung ke Amerika Serikat dan tinggal di keluarga Amerika di San Fransisco. Dalam kunjungan ituia bahkan sempat bertemu dengan Presiden John F. Kennedy dan ketika ditanya wartawan apa cita citanya, dengan lekas ia menjawab "ingin jadi diplomat"

    Cita cita yang jadi kenyataan, bahkan menjadi diplomat nomor wahid di dunia ketika ia terpilih menjadi Sekjen PBB pada 13 Oktober 2006 untuk menggantikan Kofi Anan. Tugas yang tekah dijalankannya dengan baik dan akan berakhir 1 Januari 2017. Antonio Guterres, mantan Perdana Menteri Portugis telah terpilih untuk menggantikannya.

    Kini beredar rumor bahwa Ban-ki Moon akan dicalonkan menjadi Presiden Korea Selatan. Saat ditanya wartawan soal ini, Ban-ki Moon hanya menjawab dengan senyum. Mungkin senyum diplomatik.

    BHM (Paris)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.