Perang Suriah, Warga: Bom Jatuh seperti 'Hujan'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang gadis yang terluka histeris saat terjadi serangan udara di kawasan Douma yang dikuasai pemberontak di Damaskus, Suriah, 7 November 2016. REUTERS/Bassam Khabieh

    Seorang gadis yang terluka histeris saat terjadi serangan udara di kawasan Douma yang dikuasai pemberontak di Damaskus, Suriah, 7 November 2016. REUTERS/Bassam Khabieh

    TEMPO.COJakarta - Relawan Pertahanan Sipil Suriah mencatat sekitar 21 orang tewas dan puluhan luka-luka akibat serangan udara dan bom yang terjadi di Aleppo pada hari ketiga perang itu, Kamis, 17 November 2016.

    Lebih dari 40 serangan udara dan bom barel diarahkan ke Aleppo bagian timur. Relawan Pertahanan Sipil Suriah, yang juga dikenal dengan nama White Helmets, dalam tweet-nya menyatakan banyak korban terperangkap di bawah reruntuhan.

    “Pesawat lebih banyak dari burung dan bom lebih banyak dari hujan," kata seorang warga seperti dikutip dari CNN. Anggota White Helmets, Ismail Abdallah, mengatakan bom barel yang dijatuhkan dari helikopter mengepung wilayah itu secara teratur. "Situasi ini sangat, sangat sulit," katanya.

    Baca:
    Gunakan Drone, Seorang Suami Tangkap Istrinya Berselingkuh
    Jadi Presiden AS, Donald Trump Berpeluang Digulingkan?
    Bangladesh Pertimbangkan Hapus Islam Sebagai Agama Resmi

    Kelompok aktivis Aleppo Media Center merilis gambar anak-anak yang selamat dari serangan udara itu. Misalnya, ada anak laki-laki yang diletakkan di tandu dengan luka di perutnya. Atau dua balita dengan wajah berlumuran darah.

    Perang saudara Suriah yang telah berjalan lima tahun ini menghancurkan Aleppo. Wilayah barat dikuasai pemerintah, sedangkan pemberontak di wilayah timur. Pengepungan wilayah yang dikuasai pemberontak itu telah memicu bencana kemanusiaan. Persediaan makanan, air, dan obat-obatan mereka habis.

    CNN | REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.