Suara Kaum Minoritas Setelah Donald Trump Terpilih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjuk rasa memegang spanduk saat melakukan aksi protes setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS di Los Angeles, California, 10 November 2016. REUTERS/Patrick T. Fallon

    Seorang pengunjuk rasa memegang spanduk saat melakukan aksi protes setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS di Los Angeles, California, 10 November 2016. REUTERS/Patrick T. Fallon

    TEMPO.CO, Phoenix - Menjelang tengah hari, usai kuliah Maria Felix masih tak beranjak dari tempat duduknya di ruang lab komputer lantai dua gedung Engineering Center kampus Arizona State University. Ia dan dua orang mahasiswa lainnya berbicara tentang hasil pemilihan presiden sehari sebelumnya yang dimenangkan Donald Trump.

    Wajah Maria kuyu, ekspresi kesedihan terlihat jelas. Ia tampak menahan air mata ketika berbicara dengan Tempo. “Semalam, ketika angka sudah mengarah ke kemenanganTrump, saya tak melanjutkan menonton televisi. Terlalu menyakitkan,” ujar perempuan 19 tahun asal Meksiko yang sejak berusia 7 tahun dibawa ibunya, Blanca Felix, bermigrasi ke Amerika Serikat.

    Sepekan sebelum pemilu ketika Tempo mengunjungi dia pertama kali di rumahnya di Phoenix, Arizona, Maria sangat bersemangat dan optimistik menghadapi pilpres. Meskipun tak ikut memilih karena masih berstatus pemegang kartu hijau, ia mendukung Hillary Clinton sepenuh hati. Lewat ibunya yang sudah menjadi warga Negara AS melalui pernikahan dengan warga AS, ia menitipkan harapannya.

    “Ini benar-benar saat yang kelam bagi Amerika Serikat, terutama bagi kami kaum imigran. Dalam setiap kampanye Trump menginspirasi pendukungnya untuk memandang kami kaum imigran sebagai ancaman. Sulit menggambarkan bagaimana resahnyasaya memikirkan masa depan kami, kaum minoritas dengan Trump sebagai pemimpin. Sedih, takut, juga agak putus asa,” ujar Maria.

    Dalam sedihnya, Maria toh masih berusaha optimistik. Ia tak melihat bagaimana Trump bisa menghalang-halangi masuknya imigran ke AS. “Kami datang dari tempat yang jauh lebih buruk dari Amerika Serikat. Di tempat asal saya, orang bisa dibunuh tanpa ada yang mencari karena tak ada lawenforcement yang baik. “Menghilang” istilahnya. Jadi imigran yang datang ke sini adalah mereka yang ingin mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Tentu saja ada harga yang harus kami bayar.

    Menjadi seorang imigran berarti hidup terus-menerus dalam kekhawatiran. Ilegal atau legal, selalu ada ketakutan: apakah hari ini kami akan dipulangkan ke Meksiko? Apakah hari ini kami akan dipisahkan dari orang-orang yang kami cintai?” ujarnya, kali ini tak lagi menahan tangis. Dua tetes air jatuh dari sudut-sudut matanya.

    "Mungkin ketakutan kami yang terbesar bukan Donald Trump. Ia hanya satu orang. Yang kami takutkan adalah pendukung Donald Trump yang dengan terpilihnya Trump punya legitimasi untuk menindas kaum imigran. Terus terang saya sungguh takut,” katanya.

    Agak berbeda dengan Maria yang berduka, rekan sekelasnya, Katherine Harding yang juga mendukung Hillary Clinton lebih dipenuhi rasa marah. “Saya tak mengerti bagaimana mungkin Amerika Serikat memilih Donald Trump. Ia tak hanya berkarakter buruk, tapi juga musuh kaum perempuan, kaum minoritas. Saya tak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya teman-teman Muslim saya yang berhijab. Donald Trump mengajak pendukungnya untuk mengisolasi mereka yang berbeda dengannya,” katanya.

    Kekhawatiran Maria juga dirasakan Margaretha. Tak seperti Maria yang imigran resmi, Margaretha adalah salah satu dari sekitar 12 juta imigran gelap yang tinggal di AS. Setelah hidup 16 tahun tinggal di Arizona, Margaretha belum juga bisa mendapatkan status kewarganegaraan. Meskipun dua dari empat anaknya lahir di AS, Margaretha dan suaminya selalu was-was akan kemungkinan deportasi. Untunglah lewat program DREAM Act kedua anaknya yang tidak lahir di AS bisa memiliki kesempatan hiudp layaknya seperti imigran legal.

    “Tentu saja saya khawatir dengan kemenangan Trump. Ia terlihat sebagai sosok anti imigran, apalagi imigran gelap. Tapi saya percaya dengan kekuatan hukum di AS, yang melindungi warganya, baik legal maupun ilegal. Bagaimanapun bencinya Trump pada imigran gelap, ia tak bisa dengan gampang mendeportasi mereka. Sama juga seperti peraturan baru yang memberikan kesempatan bagi anak-anak saya untuk memiliki surat-surat resmi sebagai imigran. Kalaupun Trumpakan berusaha mengubahnya, butuh waktu bertahun-tahun, dan belum tentu berhasil,” ujarnya.

    Sebaliknya, bagi pemilih Donald Trump seperti Kyle Stinemates, ia justru memberi harapan untuk mengubah iklim politik Amerika Serikat. “Saya berharap Trump akan memasukkan orang-orang baru dari luar, bukan dari sistem yang sekarang sudah jenuh. Jadi semacam pembaruan total. Kalau Hillary Clinton yang terpilih sudah bisa dipastikan ia akan berkutat di seputar orang-orang yang sama, tidak akan ada perubahan signifikan,” ujarnya saat ditemui Tempo di tempat pemungutan suara di kota Chandler, Arizona.

    “Ada banyak hal dari Donald Trump yang saya tidak setuju. Sampai saat terakhir sebenarnya saya masih belum yakin dengan pilihan saya. Sejujurnya, saya lebih peduli urusan yang lebih lokal Arizona, seperti soal legalisasi marijuana dan kenaikan upah minimum regional,” ujarnya.

    Kyle mewakili suara sebagian pemilih Donald Trump yang lebih fokus pada kemungkinan Trump bisa membawa angin segar bagi perekonomian AS. Harapan Kyle juga menjadi alasan Chris Arambulla, penjual hotdog di Tempe, Arizona, memilih Trump.

    “Orang tua saya berasal dari Meksiko. Meskipun saya lahir di Amerika Serikat, saya tetap bagian dari kaum imigran. Tapi saya mendukung Donald Trump karena saya percaya sebagai seorang pengusaha, ia akan mampu menumbuhkan perekonomian Amerika Serikat yang sudah lama lesu,” ujarnya saat ditemui di tengah kesibukannya melayani pelanggan.

    Chris mengatakan ia berbeda pandangan dengan orang tuanya yang secara tegas menolak mendukung Donald Trump, terutama menyangkut komentar-komentarnya yang pedas atas kaum imigran asal Meksiko. “Orang tua saya kaum imigran tradisional, yang datang dari Meksiko untuk mencari penghidupan yang lebih baik di AS. Tak mungkin buat mereka mendukung Donald Trump. Untuk saya, yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan perekonomian, karena itu saya dukung Trump sepenuhnya,” ujarnya.

    Kaum imigran asal Meksiko, terutama yang masih berstatus gelap, was-was dengan terpilihnya Donald Trump. Namun setidaknya mereka tak perlu khawatir dicurigai sebagai teroris seperti yang terjadi pada kaum Muslim. Imigran asal Meksiko memang berpotensi dihubung-hubungkan dengan beragam kriminalitas. Donald Trump menyebut mereka sebagai kumpulan pengedar narkoba dan pemerkosa. Tapi bagi penduduk AS kaum imigran asal Meksiko ini tetap memiliki kesamaan: mereka bukan Muslim.

    Bagi imigran penganut Islam, persoalan pun menjadi lebih berat. Selain harus mengusung beban imigran, mereka juga was-was dengan atribut yang mereka sandang sebagai pemeluk agama Islam. “Anak saya, Kayla, baru mulai berhijab tahun ini. Saya sebenarnya agak was-was. Tapi Alhamdullilah, di sekolah ia justru merasa aman. Ada beberapa murid lainnya juga yang berhijab,” ujar Ditta Yamanita, ibu dari Kayla (14) dan Rayhan (12).

    Terpilihnya Trump membuat ia sedikit khawatir. Sebagai aktivis mesjid yang rutin terlibat pengajian, kekhawatiran Ditta beralasan. Trump pernah melontarkan gagasan untuk melarang kaum Muslim memasuki AS. “Saya imigran legal di sini. Kalau memang saya terpaksa harus pulang ya pulang saja. Tapi saya senang sekali dengan sekolah tempat anak saya. Hari ini, Kayla bilang gurunya memanggil dia dan meyakinkan, “Jangan khawatir dengan terpilihnya Donald Trump. Kalau ada yang coba-coba menyakiti kamu, saya akan melindungi kamu” begitu lapornya ke saya. Saya benar-benar terharu,” ujar Moataz Moftah,

    Imam dari Islamic Center ofNorthValley (ICNEV) Mesjid Scottsdale, Arizona, mengatakan terpilihnya Trump membuat komunitas Muslim waspada. “Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi ke depan. Kita hanya bisa menunggu. Donald Trump berkampanye dengan cara mengaduk emosi pendukungnya. Wajar bagi anggota komunitas saya untuk khawatir,” ujarnya.

    Di kota Scottsdale, Arizona, ada sekitar 2500 warga Muslim. Setiap sholat Jumat, Imam Moataz memimpin sekitar 400 umat. Menghadapi terpilihnya Trump, Iman Moataz mengajak umatnya untuk selalu tawakal. “Sebagai seorang Muslim seharusnya kami seharusnya tidak perlu takut. Kami harus percaya tak ada yang bisa terjadi tanpa seizin Allah,” ujarnya.

    Imam Moataz mengaku tak melihat perbedaan mencolok antara Hillary Clinton dan Donald Trump dalam kaitannya dengan kepentingan umat Islam. “Justru dengan gayanya yang selalu berbicara terus terang tanpa basa-basi, kami kemungkinan bisa mengantisipasi tindakan Trump. Hillary justru sulit diprediksi langkah-langkahnya,” ujarnya.

    ULY SIREGAR,  Phoenix, Arizona

               


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.