Bunuh 2 WNI, Bankir Inggris Dipenjara Seumur Hidup  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rurik George Caton Jutting (29 tahun) yang berkewarganegaaran Inggris, dikawal dalam mobil polisi sebelum menghadiri pengadilan di Hong Kong, 3 November 2014. Polisi menemukan mayat korban yang diduga WNI dalam sebuah koper di balkon apartemennya. AP /Apple Daily

    Rurik George Caton Jutting (29 tahun) yang berkewarganegaaran Inggris, dikawal dalam mobil polisi sebelum menghadiri pengadilan di Hong Kong, 3 November 2014. Polisi menemukan mayat korban yang diduga WNI dalam sebuah koper di balkon apartemennya. AP /Apple Daily

    TEMPO.CO, Hong Kong - Bankir Inggris divonis penjara seumur hidup pada hari ini, Selasa 8 November 2016 atas pembunuhan sadis yang diakuinya terhadap dua wanita warga negara Indonesia. Kedua WNI ini sebelumnya ia siksa dan perkosa di apartemen mewahnya di Hong Kong.

    Rurik Jutting, 31 tahun, yang merupakan mantan karyawan Bank of America, membantah membunuh Sumarti Ningsih (23) dan Seneng Mujiasih (26)pada 2014 lalu dengan alasan hilang kesadaran karena pengaruh alkohol, penyalahgunaan narkoba dan gangguan seksual.

    Jutting  sendiri mengaku bersalah atas tuduhan pembunuhan yang lebih ringan dalam kasus yang menyita perhatian media karena rekaman video yang dilihat oleh juri dan menunjukkan kebrutalan pembunuhannya.

    Baca: Pembunuh Brutal 2 WNI di Hong Kong Merekam Kekejamannya

    Juri secara bulat menilai Jutting bersalah atas pembunuhan dua WNI tersebut.

    Jutting yang sempat mengenyam pendidikan di Cambridge, mengenakan kemeja biru dan memandang ke bawah tanpa menunjukan sedikitpun emosi ketika putusan itu dibacakan dalam ruang sidang terbuka yang penuh sesak oleh wartawan.

    Juri yang terdiri atas empat perempuan dan lima laki-laki, membutuhkan waktu sekitar enam jam, termasuk waktu istirahat makan siang, untuk mendapatkan putusan tersebut.

    Baca: Bankir Inggris Ini Tenang Rincikan 2 WNI yang Dibunuhnya

    Dalam pernyataan yang dibacakan oleh pengacara terdakwa Tim Owen, Jutting yang merupakan cucu dari seorang polisi Inggris di Hong Kong dengan wanita lokal Tiongkok, menyatakan penyesalannya.

    "Kejahatan ini tidak akan pernah bisa saya perbaiki, bagaimanapun ... saya sangat menyesal. Saya minta maaf melebihi kata-kata saya," kata Jutting dalam pernyataannya.

    Tim kuasa hukum berargumen Jutting kecanduan kokain dan alkohol dan juga memiliki serta gangguan kepribadian seksual sadisme seksual serta narsisme yang telah mengganggu kemampuannya untuk mengontrol perilakunya sendiri.

    Simak lainnya: Pembunuhan 2 WNI, Bankir Inggris Disebut Narsistik Sadis

    Jaksa penuntut sendiri menolak hal ini dan menyatakan Jutting mampu membentuk penilaian dan melakukan pengendalian diri sebelum dan sesudah pembunuhan, merekam penyiksaan Ningsih di iPhone-nya dan juga pada rekaman menunjukan Jutting membahas pembunuhan, memakai kokain, dan fantasi seksual grafisnya.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.