Warga AS Ramai-ramai Beli Senjata Menjelang Pilpres

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Linda Clifton, pemilik toko senjata yang mengatakan peraturan tentang persenjataan cukup baik untuk bisnis. aljazeera.com

    Linda Clifton, pemilik toko senjata yang mengatakan peraturan tentang persenjataan cukup baik untuk bisnis. aljazeera.com

    TEMPO.CO, New Orleans - Penjualan senjata di Amerika Serikat meningkat menjelang pemilihan presiden pada 8 November mendatang. Warga Amerika ramai-ramai ke toko penjual senjata untuk membeli senjata terutama jenis senjata ringan AR-15 untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan politik sehubungan dengan kepemilikan senjata.

    Pemilik toko senjata di Mississippi, Miranda Evans, menuturkan tokonya hampir kehabisan senjata jenis AR-15C. Bahkan dia tak dapat lagi memesan senjata itu ke pabriknya. Pembeli panik, kata Evans, hal ini terjadi untuk mengantisipasi jika Hillary memenangkan suara dalam pemilihan presiden. 

    Sebab selama kampanye, ujar Evans, Hillary berjanji untuk membuat aturan yang menekan penjualan senjata untuk menurunkan angka kematian yang disebabkan senjata.

    Baca:
    Yayasan Clinton Akhirnya Akui Terima Rp 13,1 M dari Qatar
    Al-Qaeda Diduga Tebar Teror Sehari Sebelum Pilpres AS

    Semasa Bill Clinton menjabat sebagai presiden, ia telah meneken undang-undang antisenjata tahun 1994. Clinton melarang warga memiliki senjata selama sepuluh tahun periode pemerintahannya.

    Hillary berjanji akan memberlakukan kembali undang-undang yang dibuat di masa suaminya menjabat sebagai presiden.
     
    Warga Amerika khawatir Hillary akan menang dalam pemilihan presiden dan menjadi presiden ke-45. Sehingga janji kampanyenya akan diwujudkan.  

    "Kami tidak akan dapat membawa AR-15 lagi untuk memburu rusa, senjata yang hanya akan melukai hewan, bukan untuk membunuhnya," kata Evans seperti dilansir dari Al Jazeera, 4 November 2016.

    Di Alabama, pemilik toko senjata, Tracy Schmit, mengatakan tentang kekhawatiran masyarakat mengenai pemerintah yang menindas. Ia yakin jika Hillary menang dalam pemilihan presiden, undang-undang pengawasan senjata segera dilakukan.

    Namun banyak warga Amerika yakin undang-undang pengawasan senjata tidak akan mengarah pada perubahan Amandemen Kedua konstitusi AS yang menyatakan hak setiap orang untuk memiliki senjata, tidak boleh dilanggar.

    Walhasil, para pelanggan toko senjata Schmit memborong senjata termasuk amunisinya sebagai antisipasi.

    Meningkatkan kasus kejahatan di Amerika, menurut Lindan Clifton, pemilik toko senjata di Alabama, menjadi alasan warga membeli senjata. Bahkan Clifton dan suaminya pensiunan militer memberikan kursus kepada pelanggannya mengenai cara menggunakan senjata untuk pertahanan diri. 

    Seorang pembeli senjata yang menolak disebut namanya mengatakan banyak warga Amerika berang dengan perubahan yang terjadi di negara mereka yang disebabkan oleh kehadiran pendatang dari luar Amerika.

    "Jika Hillary Clinton terpilih, saya sarankan warga asing tidak datang ke negara ini. Mereka semua akan merusak," katanya.

    AL JAZEERA | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.