Pembunuhan 2 WNI, Bankir Inggris Disebut Narsistik Sadis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan. (tabloidjubi)

    Ilustrasi pembunuhan. (tabloidjubi)

    TEMPO.CO, Hong Kong - Bankir Inggris, Rurik Jutting, didiagnosa memiliki sifat narsistik sadis dengan kecenderungan penggunaan kokain dan alkohol. Hal ini terungkap dalam persidangan pembunuhan Jutting terhadap dua perempuan yang berasal dari Indonesia, di Hong Kong.

    Psikiater forensik Richard Latham membeberkan di depan hakim bahwa Jutting tumbuh dengan kecenderungan 'kelainan perilaku seks sadis'.

    "Berawal dari pornografi, yang kemudian mendorongnya berperilaku seburuk yang anda lihat," kata Latham dalam persidangan, Senin, 31 Oktober 2016. Latham adalah psikiater yang telah memeriksa Jutting selama berjam-jam.

    Jutting sebelumnya telah membunuh Sumarti Ningsih, 23, dan seorang WNI lainnya Seneng Mujiasih, 26, di apartemennya pada 1 November 2014.

    Namun, pria lulusan Cambridge itu membantah jika disebut bertanggung jawab secara langsung atas pembunuhan-pembunuhan itu. Ia mengakui pembunuhan tersebut terjadi secara tidak disengaja. Pembelaan Jutting di pengadilan dimulai pada persidangan Senin, 31 Oktober 2016, dengan keterangan Latham sebagai pembukanya.

    Dalam persidangan itu, Latham menggambarkan pria berumur 31 tahun itu sebagai orang yang memiliki kecerdasan tinggi, dan memilki penilaian yang tinggi terhadap dirinya sendiri.

    "Ia mendeskripsikan diri sendiri secara yakin, dan menunjukan pencapaian tentang kehebatan dirinya. Contohnya, dia mengatakan saat dirinya pertama kali tak diterima di Cambridge, ia yakin para pengujinya lah yang tak mengerti dirinya," kata Latham.

    Saat pembunuhan terjadi, Latham justru mengatakan kemampuan Juttting dalam mengontrol diri terkikis oleh sifat penyakit narsistik yang ia miliki. "Hal itu mempengaruhi rasa empatinya terhadap orang lain," kata Latham.

    Pada Oktober 2014, Jutting menggorok leher Ningsih, setelah menyekapnya selama selama tiga hari. Empat hari kemudian, ia melakukan hal yang sama pada Mujiasih di apartemennya.

    Latham mengatakan ketertarikan Jutting pada kekerasan seksual berkembang seiring waktu. "Pada Mei 2011 ia membaca ulasan tentang pekerja seks dalam praktek ekstrem. Di 2013 ia mencari pekerja seks yang penurut," Latham berkata. "Penyiksaan, pemerkosaan, perbudakan secara seksual, membuat dia (Jutting) gembira."

    Persidangan itu akan kembali dilanjutkan pada Selasa, 1 November 2016.

    CNN | EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.