Seminar di Portland: Indonesia Contoh Sukses Deradikalisasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    TEMPO.CO, San Fransisco - Indonesia bisa menjadi contoh keberhasilan melakukan upaya deradikalisasi bagi negara-negara lain. Upaya ini akan terus dilakukan, termasuk dengan memperkuat program deradikalisasi di tingkat akar rumput. Kesimpulan itu mengemuka dalam seminar “Deradicalizing Radicalization: Learning from Interfaith Peacebuilding in Indonesia and The United States” yang berlangsung di Portland State University, negara bagian Oregon, Amerika Serikat, Sabtu, 15 Oktober 2016.

    Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia San Francisco berkerjasama dengan Portland State University (PSU) ini, Roger Paget, Indonesianis dari Lewis and Clark College, Portland, Oregon, mengatakan negara-negara lain sudah sepantasnya mencontoh Indonesia. “Indonesia sukses meredam aksi-aksi teror yang saat ini banyak dipengaruhi ISIS” kata Paget.

    Selain Paget, akademisi Amerika yang hadir adalah Amanda Byron, ahli resolusi konflik, studi perdamaian dan genosida, serta Harry Anastasiou, pakar hubungan internasional–keduanya dari Portland State University. Ada pun akademisi Indonesia yang berbicara adalah Tonny Pariela dari Universitas Pattimura di Ambon dan Muhammad Wildan dari UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta.

    Pariela menyampaikan bagaimana konflik komunal masyarakat di Ambon pada 1999 hingga 2001 silam merupakan konflik berdarah yang terburuk di Maluku, serta bagaimana pemerintah dan masyarakat lokal dapat menyelesaikan melalui konsep deradikalisasi yang menggunakan kearifan lokal.

    Sedangkan Wildan mengungkapkan berbagai aksi radikalisme di Indonesia yang dipengaruhi ISIS. Wildan menjelaskan bagaimana pola rekrutmen pemuda-pemuda di Indonesia agar bersimpati terhadap ISIS, dan bagaimana kelompok madani dan pemerintah Indonesia menggunakan berbagai pendekatan untuk meredamnya. “Saat ini, Indonesia sudah memasuki era Post-Islamism atau Islam yang menjunjung tinggi demokrasi,” kata dia.

    Adapun Paget, Byron, dan Anastasiou masing-masing menampilkan berbagai perspektif mengenai konsep radikalisasi yang terjadi di Amerika. Mereka mengakui keberhasilan Indonesia dalam melakukan deradikalisasi ketika menanggulangi paham radikal dan ekstrem.

    Seminar di perguruan tinggi negeri di Portland ini mengamini penting dan efektifnya pendekatan soft approach dalam meredam benih-benih radikalisme di generasi muda, baik di Indonesia, Amerika, maupun negara-negara lainnya. Hal inilah yang menyebabkan konsep deradikalisasi yang dipopulerkan oleh Indonesia menjadi semakin relevan dalam menciptakan keamanan dan perdamaian dunia.

    Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal Indonesia untuk San Fransisco Ardi Hermawan menyampaikan bahwa seminar ini penting sebagai medium berbagi konsep deradikalisasi Indonesia kepada kaum intelektual di Amerika. “Forum ini menjadi penting karena Indonesia dan Amerika saling belajar bagaimana pemerintah masing-masing negara mengatasi aksi kekerasan sehingga perlu melibatkan sekolah, perguruan tinggi, maupun pemimpin agama di tingkat akar rumput,” ujar Ardi.

    DP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.